DPW APPSI Jabar Menilai Penutupan Pasar Wanaraja Bukan Solusi, Hanya Menambah Masalah!

Spread the love

GARUT | NUANSAREALITANEWS.COM,-Kasus kematian pertama di Garut akibat terpapar virus corona menyentak semua pihak masyarakat Kabupaten Garut, khususnya Para pemangku kepentingan di Kabupaten Garut utamanya Bupati Garut.

Tragisnya warga yangmeninggal mempunyai tempat tinggal di belakang pasar Wanaraja Garut. Artinya, bukan warga atau pedagang pasar Wanaraja, malahan belakangan yang bersangkutan diketahui bekerja di Jakarta, tepatnya di pasar Kramat Jati Jakarta.

Menurut informasi, yang bersangkutan pulang ke Wanaraja tanggal 21 Maret dan meninggal tanggal 31 Maret ini.

Apabila melihat riwayat perjalanannya kemungkinan besar dia terpapar di Jakarta.

Adanya kasus kematian terpapar virus coron covid-19 di Garut, mendorong Bupati Garut dan jajarannya langsung mengambil kebijakan menutup pasar Wanaraja konon untuk sementara tanpa mengajak dan meminta masukan dari pedagang. Itu sama sekali tidak ada kolerasinya. Karena yang meninggal sesungguhnya baru pulang dari Jakarta, kanepa pasar Wanaraja yang dikorbankan.

Memang pada kesempatan siang Selasa, 31 Maret 2020 Bendahara DPD APPSI GARUT H. Ceceng melaporkan bahwa ada kejadian di atas kepada Sekretaris DPW APPSI JABAR untuk meminta arahan, berkaitan H Ceceng diundamg ke Pendopo Garut untuk rapat

Namun sesampainya di pendopo H. Ceceng memberitahukan, bahwa dia tidak bisa masuk ke ruang rapat. Artinya keputusan akan menutup pasar Wanaraja tidak melibatkan pedagang dan APPSI.

Pada kesempatan terpisah Yudi Kurniawan selaku Ketua DPD APPSI Garut menegaskan, bahwa rencana penutupan itu sama sekali tidak melibatkan kami, Satu saja pasar rakyat di Garut ditutup, baik sementara maupun permanen selama wabah corona, kami menuntut ritel moderen juga harus ditutup seperti Indomart, Alfamart, Yogya, Griya dan sebagainya harus ditutup,” ucapnya.

“Kedua kami minta dengan ditutupnya pasar, Pemda Garut harus menjamin keluarga para pedagang,” pintanya.

Pada kesempatan terpisah, Sekretaris DPW APPSI JABAR, H. Nang Sudrajat menegaskan,” Seandainya penutupan pasar tanpa bermusyawarah dengan pedagang sangat rentan terjadi resitensi, Kami mendukung sikap DPD APPSI GARUT dengan menolak penutupan pasar, ada beberapa alasan untuk itu, antara lain :
Tadi waktu kang Ceceng telp saya minta dia .untuk mengusulkan dalan rapat agar jangan dulu di tutup tapi, lakukan dulu rapid test, sesuai konfirmasi Dinas Indag Jabar bahwa akan ada test khusus bagi pedagang pasar se Jabar. Mengetahui ada kejadian itu, saya sudah sampaikan rapid test pedagang minta wanaraja di prioritaskan pada kesempatan pertama, Sehingga jelas ada data dan peta kondisi pedagang,” ungkapnya.

“Kalau ditutup dengan cara tergesa gesa, pertama bisa menimbulkan
Keributan karena tidak sosialisasi secara matang, terus kedua bisa tidak terkendali pedagang berpencar kemana mana tanpa diketahui status kesehatannya. Ini jauh lebih berbahaya,” tegasnya.

Ceceng Bendahara DPD APPSI GARUT yang kebetulan dagang di Wanaraja, diundang rapat ke pendopo untuk membahas masalah ini, tapi ga bisa masuk dengan alasan ratas. Jadi rapat mengambil kebijakan pasar Wanaraja ditutup tanpa mendengar masukan dari pedagang. Jadi bila melihat kronologis di atas, kami dukung sikap DPD APPSI GARUT, karena sangat merugikan pedagang. Ingat menutup pasar yang tidak ada kolerasinya dengan pasar bukan solusi, tetapi menyelesaikan masalah dengan masalah tegas sekretaris DPW APPSI JABAR, yang biasa akrab di panggil pak haji oleh para pedagang itu.

(Rudi)

Related posts