SUMUR BANDUNG DEPOK 1622, ANTARA MAKNA DAN SEJARAH

Spread the love

DEPOK |NUANSAREALITANEWS.COM| Sumur Bandung Depok selama ini identik dengan aroma magis didalamnya. Situs tersebut berada di Kampung Taman Induk, RT 7, RW 11, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Cipayung Kota Depok. Sumur tersebut merupakan mata air yang keluar dari sela-sela akar pohon besar. Aliran air itu ditampung dalam kolam yang dibangun.

“Budayawan Kota Depok, Edy Eriza ketika ditemui dilokasi (18/5) menyatakan Adalah Hamzah membeli/pemilik lahan Sumur Bandung sekitar 3.000 meter persegi pada 2012. Sebagian lahan Hamzah berupa sumur dan pohon besar diserahkan kepada Pemerintah Kota Depok guna dijadikan cagar budaya. Kawasan ini pada mulanya berupa hutan, semak belukar dan pesawahan warga. Letaknya yang cukup jauh dari pemukiman membuat lokasi tersebut ideal sebagai tempat menyepi. Beberapa benda-benda yang diduga memiliki nilai kepurbakalaan sempat ditemui warga,”tuturnya.

Sejatinya sumur Bandung berawal dari tahun 1622,tempat ini berupa petilasan 4 penjuru para ranggalawe. Adalah Sunan Kalijaga dari Cirebon yang saat itu memilih lokasi tersebut sebagai petilasan, namun karena tidak ditemukan air untuk kebutuhan ,dengan kesaktian, keilmuan yang dimiliki untuk mendapatkan sumbet air, keluarlah mata air dari bawah akar pohon Kala Pucung. Air yang keluar dari dasar pohon pucung bertambah besar dan membentuk sebuah rongga penampungan air.Air tersebut merembes sampai kedalaman tanah merubah struktur akar pohon menjadi ruang.Akar -akar yang saling terlilit membentuk sebuah rongga seperti goa,”jelasnya. Mata air yang keluar dari bawah pohon pucung dijadikanlah tempat pertapaan atau ritual.
Disumur/didalam rongga pohon pucung tersebut hidup hewan ikan bulus yang bergelang. Zaman itu konon kalau, sunan kali jaga pergi hewan gabus tersebut yang menjaga sumur,jika sunan datang hewan bulus menjadi teman sunan berfantasi/bercakap-cakap disaat pertapaan dan sampai sekarang ini hewan ikan bulus tersebut keberadaannya masih hidup,”papar Edy.

“Saat ketika ditanya media,Hamzah pemilik lahan (18/5) menyatakan ,saya menemukan batu-batu yang ditengarai bagian dari punden berundak saat menggali sumur. Bahkan, katanya, ada peziarah yang menemukan batu tegak di area situs. Akan tetapi, keberadaan benda yang diduga bersejarah tersebut raib dibawa peziarah. Nama istilah air yang terbendung, warga menyatakan sumur bendung (sumur terbendung) karena musabab yang tak diketahui, nama Sumur Bandung kadung lebih dikenal warga dan menyebar.
“Hamzah juga menyatakan pernah juru kunci Sumur Bandung ,Toyim (68) menurut sepengetahuan beliau yang disampaikan penamaan Sumur itu diberikan oleh peziarah asal Cirebon sekitar 1985. sang peziarah mencari lokasi Sumur Bandung di wilayah Cipayung, Depok. Peziarah itu tetap meyakini dan menyebutnya Sumur Bandung .Keberadaan mata air yang tak pernah surut tersebut sangat menolong warga ketika musim kemarau. Warga memanfaatkannya guna keperluan sehari-hari ketika sumur-sumur mengering disekitar warga setempat sampai sekarang, “imbuhnya.