0 views

Etnisitas Homo Homoni Lupus

Spread the love

Oleh: Faisal Nugraha

Kepala Negara INDONESIA mengagetkan media masa dan masyarakat, dengan pernyataannya bahwa “Mudik dan Pulang Kampung berbeda,” Ujarnya.

Di tengah wabah Covid19, pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan guna pemutusan rantai Virus, Namun hal ini berlaku hanya untuk masyarakat kelas sosial atas.

Hanyalah kaum ‘Borjuis’ yang menaati himbauan pemerintah, kelas sosial ‘Proletar’ masih mempertimbangkan lebih dalam lagi mengenai himbauan pemerintah tersebut.

Masih banyak masyarakat yang berkerumun khususnya sore hari, dimana momentum tersebut digunakan sebagai upaya menunggu detik-detik berbuka puasa sambil melihat jajanan sekitar.

Masyarakat INDONESIA tidak disiplin seperti warga CHINA, karena masyarakat INDONESIA memiliki ketidakpuasan terhadap pemerintah. Semakin tinggi aturan pemerintah maka semakin tinggi angka pelanggarannya, bukan malah sebaliknya, hal ini bisa ditinjau dari kejadian sebelumnya, Contoh:
Masih banyak orang ditilang, masih kurang kesadaran Nasionalisme, kurang kesadaran dalam tradisi gotong royong, banyak PNS tidak patuh aturan; mulai dari baris berbaris hingga waktu kerja, masih banyak pelajar yang tidak taat aturan, anggota organisasi melanggar AD/ART dan kebijakan yang ditegakan, Dan masih banyak lainnya.

Korupsi, kriminal, narkoba, penipuan dan pemerkosaan. Sudah dilarang; bahkan diberikan contoh real dengan hukuman yang berat, akan tetapi tindakan tersebut masih dilakukan oleh pelaku.

“Semakin tinggi peraturan ditegakan maka semakin tinggi pula pelangarannya,” seolah “manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.”
HOMO HOMONI LUPUS salah satu teori Sosiologi yang dikemukakan pertama kali oleh Plautus tahun 945, teori ini seakan-akan masih berlaku sampai sekarang, bahwa kesadaran Manusia menjadi manusia masih sangat rendah.
Masyarakat Indonesia khususnya pulau jawa yang memiliki populasi tinggi, masih banyak melanggar peraturan pemerintah, karena masyarakatnya memiliki ketidakpuasan terhadap Negaranya.