Feminisme Pola Dua

Spread the love

Oleh: Faisal Nugraha

Tuhan menciptakan makhluk berpasang-pasangan, bahkan primordial masyarakat adat memiliki konsep:
“Pola Dua,” (Prof. Jakob Sumardjo).

Ada langit ada bumi, ada jahat ada baik, ada siang ada malam, ada coet ada mutu, ada hawu ada song-song, ada batara ada batari ada dewa ada dewi, ada pria ada wanita.
Allah pun berkata dalam satu idiom: “Wakhalaknakull ajwazan,” Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.

Ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, Adam hanya meminta tulang rusuknya kepada Allah, yaitu: Siti Hawa.
Kita semua dapat belajar pada kisah epos Ramayana, bahwa kekuasaan Raja Alengka(Rahwana), hanya dapat runtuh oleh wanita; yaitu Shinta.

Hal ini menunjukan bahwa wanita adalah bagian/penompang yang penting bagi Struktur Kebudayaan, Sosial Budaya dan Pendidikan.

Konsep pemikiran orang sunda akan keterdidikan perempuan, bisa tinjau dalam kisah Nini Anteh. Nini Anteh digambarkan sebagai sosok subyek yang kritis. sebelum Niel Amstrong pergi ke bulan, Ilmu Astronomi adalah suatu bagian untuk Masyarakat Adat Sunda.

Melalui hasil bahasan dan metode penelitian deskriptif analistis dalam “Jurnal Patnanjala” yang diterbitkan BPNB Jawa Barat.  Nini Anteh pergi ke bulan memenuhi keinginan hatinya, Nini Anteh pergi ke bulan karena atas dasar dirinya merasa memiliki Ilmu, Nini Anteh memiliki cerminan sebagai fungsi Pendidikan dan Budaya lokal

(Yostiano Ani, 2018).

Seperti kita ketahui wanita hebat yang kini dinobatkan sebagai salah satu pahlawan INDONESIA yaitu R.A Kartini, berhasil mengupayakan kesetaraan gender. Kartini yang pada saat itu tertarik pada pemikiran wanita eropa, membuat dirinya menjadi Visioner dan ber-integritas.

Salah satu pemahaman mengenai perjuangan wanita adalah “Feminisme.”
Feminisme digunakan sebagai nama untuk sebuah gerakan sosial yang mengusung tentang hak-hak perempuan di Seneca Falls; New York, pada tahun 1848 oleh Elizabeth Cady Stanton dan kawannya, Susan B. Anthony. Mereka adalah duo pertama yang direkam sejarah melakukan pengorganisasian gerakan sosial perempuan di abad ke-19 yang berjuang untuk penghapusan perbudakan di Amerika Serikat dan hak perempuan untuk memilih. Gerakan ini kemudian disebut sebagai feminisme gelombang pertama.

Satu abad berikutnya, perjuangan pergerakan perempuan bernafas dalam ideologi sosialisme yang diusung oleh Feminis Eropa seperti Clara Zetkins, Rosa Luxemburg dan Emma Goldman.

Semangat Feminisme; pembebasan terhadap perbudakan dan penjajahan kemudian menular ke negara-negara Asia dan Afrika yang berada di bawah penjajahan beberapa negara Eropa pada awal abad ke-20.

Feminisme memiliki asumsi dasar yang tidak bisa diganggu, Yaitu: Perempuan yang tertindas.

(FaisalNR).