Kapitalisme Seni

Spread the love

Oleh: Faisal Nugraha

Definisi seni secara universal adalah: suatu ide atau gagasan manusia yang diungkapkan melalui keindahan, sedangkan kapitalisme menurut KBBI adalah: suatu paham ekonomi yang bermodal dari pribadi.
Seni terbagi dalam beberapa macam partikel, diantaranya: Seni Rupa, Seni Murni, Seni Pertunjukan, Seni Budaya dan Lainnya.

Ada ideologi yang menarik dari ‘seniman tradisi’ beberapa banyak orang yang menjadikan seni sebagai profesi untuk memenuhi kebutuhan hidup, kendati demikian hal tersebut tidak mengurangi Value dan Esensi pada Kesenian tersebut.

Contoh yang real misalkan adalah: “Mapag Panganten,” dikarenakan siklus pengantin yang tidak habis maka bagi ‘Seniman Tradisi’ hal tersebut sangan efektif untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Indikasi yang menarik adalah, seorang penjual jasa seni tidak bisa memasang tarif seperti Dokter, Ahli Gigi, Konsultan Psikolog dan lainnya. Nominal gajih seorang ‘Seniman Tradisi’ pada mapag panganten ditentukan oleh ‘pimpro.’

Akan tetapi beberapa ‘Seniman Tradisi’ masa kini kurang tepat dalam mengambil kebijakan, contohnya: mereka selalu berfikiran komersil pada seni, padahal sejatinya bukan kita yang memepertanyakan
“Dapat apa dari seni ? ” akan tetapi logika ini terbalik, lebih baiknya adalah:
“Kita sudah memberikan apa untuk seni ?”

Apabila berhubungan dengan “Uang” manusia pada umumnya sulit dalam mengambil keputusan, apapun itu!
dengan rancunya sumber pikiran seniman pada komersilitas, hal ini mengurangi nilai kemurnian dan kesejatian seorang seniman.

Ada kejadian di suatu wilayah seniman saling mengritisi dan persuasif, menjelekan karya yang lain demi karyanya banyak disukai orang, hal ini sudah ada nuansa politik dalam seni, karena bersumber pada komersilitas, dikarenakan seseorang ini takut kelaparan maka dia akan terus bertarung untuk berperang, dengan melupakan sesanti ‘Seniman Tradisi,’ yaitu: “Ngaraketkeun Duduluran.”
terminologi tersebut menjadi kehilangan Value, dikarenakan ada nuansa politik dalam seni.

Adapun aspek dan konteks yang lain menyangkut Kapitalisme di dalam Seni. semua ini terjadi dikarenakan salah satu penyebabnya adalah Logika, takut tidak makan, taku tidak jajan, takut ada karya yang lebih baik, takut dikritik ahli seni dan lainnya.

Cobalah menjadi seniman yang bergerak kompatibel sesuai rasa dan intuisi, selain halus semuanya akan indah, memang sangat sulit kompatibel dengan rasa, semuanya diluar nalar dan rasio. Akan tetapi percayalah, dengan patah hati, kita akan mengambil keputusan yang bijak dan mengantarkan kita pada kerendahan hati.
Bergerak kompatibel dengan intuisi, Seniman akan mampu mengalahkan musuh terbesarnya, yaitu: diri sendiri yang orsinil dan sejati.

Related posts