Teologi Pantheisme Siti Jenar

Spread the love

Bandung, 8 April 2020

Oleh: Faisal Nugraha (Wartawan Budaya Nuansa Realita)

Banyak literatur mengenai Siti Jenar, akan tetapi hal ini masih menjadi teka-teki dan juga misteri.
Apakah Siti Jenar benar-benar ada?
Ini semua masih menjadi misteri yang belum terpecahkan, ada yang mengatakan Siti Jenar berasal dari Persia ada pula yang berpendapat dari Arabia.

Menurut Babad tanah Jawa, Siti Jenar masih keturunan Muhammad S.A.W, ada pula persepsi bahwa Siti Jenar sengaja dimunculkan secara Mite/Imajiner untuk membendung arus faham Syiah terutama dari sekte Widhatul Wujud atau teori Pantheisme, berdaulat antara tuhan dengan umatnya, yang biasa disebut:
“Manunggaling Kawula Gusti.

Semua pernyataan di atas adalah tafsir dari masing-masing konstelasi, apabila diperdebatkan outputnya adalah perdebatan, karena “Sejarah hanya bisa dibuat oleh orang yang menang dalam berperang dan ditulis melalui tinta emasnya.”

Manusia hanya dapat mengira-ngira, adapun yang mempunyai metodelogi khusus dalam mengkaji ini, Histografi maupun perjalanan Sprititual, tetap saja yang mengetahui rahasia Langit dan Bumi hanyalah Allah S.W.T.

Biarkan perbedaan paham dan juga tafsir menjadi rahmat bagi kita semua, kami akan coba menafsirkan ‘Teologi’ Syekh Siti Jenar dalam perspektif Masyarakat Adat Sunda dan Antropologi.

“Manunggaling Kawula Gusti” adalah multi tafsir yang luas, maka dari itu perlu kelembutan dan kehalusan dalam mempelajarinya, bukan berarti bahwa Siti Jenar adalah Tuhan, akan tetapi di dalam kesadaran Siti Jenar ada tuhan.
Seperti kita ketahui seorang Filsuf pernah berkata: “Tuhan Telah Mati”
(Niethzche, 1883).

Bukan berarti Tuhan telah mati, akan tetapi jelasnya manusia tidak lagi membutuhkan Tuhan ketika akal sudah mendominasi hidup manusia,
Yang unik dalam perspektif Masyarakat Adat Sunda, yang berkontruksi dalam Sastra dan Terminologi adalah: ‘Allah aya di kami, Allah ninggali kami, tapi kami lain Allah.’

Hal ini menunjukan sangat jelas bahwa Masyarakat Adat Sunda sangat Pantheisme. Implementasi ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari orang Sunda, Allah selalu dilibatkan dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga ketika mereka berbuat keburukan akan berspekulasi jauh lebih dalam, dikarenakan Tuhan ber-manunggal dalam kesadarannya. Kurang lebihnya seperti itulah Teologi Pantheisme, Manunggaling Kawula Gusti.