Meski Miliki Penyakit Bawaan Diabetes Dinyatakan Sembuh dari Covid-19, Ini Kesaksian Mangaranap M. Sinaga

Spread the love

Depok | Nuansarealitanews.com,- Depok adalah salah satu kota yang termasuk dalam daftar zona merah terkait covid-19. Disamping benyaknya korban yang terjangkit virus corona tersebut baik itu ODP, PDP, Positif dan meninggal namun ada juga keluarga-keluarga yang dinyatakan sembuh dari penyakit yang disebabkan oleh virus yang bernama covid-19 tersebut. Berikut adalag kesaksian Mangaranap M Sinaga SE.MH, salah satu pasien yang positif terjangkit virus covid-19 yang dinyatakan sembuh.

*Mazmur 18:2*
_Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!_

Ayat Firman Tuhan diatas menjadi dasar kekuatan saya selama menjalani sakit, khususnya 51 hari dalam perawaatan atas Covid 19, dimana saya dirawat di RS Depok 2 hari, RSD Covid Wisma Atlet Kemayoran selama 35 hari dan 14 hari Isolasi Mandiri di Depok setelah RSD Wisma Atlet menyatakan SEHAT.

Sesungguhnya beberapa hari sebelum mengalami gejala COVID-19, Saya sedang sibuk-sibuknya mengurus persiapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Depok, khususnya bagi umat Kristen Depok. Saya sedang mempersiapkan dan berkoordinasi dengan Pimpinan Gereja-gereja di Kota Depok untuk melaksanakan Peribadahan Minggu dan Hari Besar Umat Kristen dari rumah sejak 22 Maret. Selain itu saya juga sedang menyelesaikan tugas-tugas kantor yang sangat luar biasa padatnya.

Pada saat itu kondisi saya sesungguhnya tidak mengalami gejala atau ada keluhan sakit penyakit. Hanya memang sejak tanggal 15 Maret 2020, Istri saya mengalami batuk-batuk dan istirahat di rumah. Saya sempat menyarankan untuk berobat ke dokter klinik pada tanggal 19 Maret 2020 dan ke RS pada tanggal 23 Maret 2020. Pemeriksaan RS dilakukan mulai pagi hingga sore hari dan berdasarkan hasil RONTGEN diketahui bahwa istri dinyatakan suspect Covid 19 atau Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Diduga kuat ia tertular saat melayat kawan kami yang meninggal pada 10 Maret 2020.

Istri saya berinisiatif melakukan Isolasi Mandiri di rumah sejak tanggal 15 Maret, dan diperketat setelah mengetahui hasil pemeriksaan RS tanggal 23 Maret, namun demikian saya masih melayani keperluannya tanpa APD ketika tidak bekerja. Pada tanggal 24 Maret 2020 malam, saya mengalami mual-mual hebat dan keesokan harinya saya ke RS untuk memeriksakan diri, setelah dilakukan cek darah, saya di diagnosa mengalami penyakit TIFUS. Namun siang menjelang sore masih dilakukan pemeriksaan lanjutan EKG dan Rontgen. Berdasarkan Torax Paru saya dinyatakan Suspect COVID-19 dan saat itu juga ia ditetapkan sebagai PDP. Padahal saya tidak batuk dan merasakan sesak napas. “Itulah mungkin kenapa sekarang ada yang disebut orang tanpa gejala (OTG)”. Memang pada bulan Maret 2020 di Kota Depok belum ada Alat Test seperti Rapid atau SWAB. Satu-satunya cara andalan mengetes COVID-19 adalah dengan melakukan rontgen.

Setelah dinyatakan PDP, saya yang sebelumnya di Ruang Isolasi IGD, dipindahkan ke dalam sebuah kontainer sempit (ukuran 20 Feets). Ada tiga pasien saling berdekatan dengan jarak antara pasien bahkan tak sampai satu meter. Karena kondisi fasilitas yang tak memadai itu, dan kekuatiran penyakit akan makin parah atau tertular lebih dalam, maka keesokan harinya tanggal 26 Maret 2020 saya berinisiatif untuk pindah ke Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet bersama istrinya yang juga PDP.

*RS Darurat Wisma Atlet*

Sampai di Wisma Atlet, kami diperiksa di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Setelah proses pemeriksaan saya dan istri dipindahkan ke unit apartemen yang berisi dua kamar. Saat itu kondisi saya mulai melemah dan drop. Saya perlu dibantu untuk bisa berjalan sendiri dan untuk makan pun perlu di suapin.

Belum ada penanganan khusus saat hari pertama dirawat. Baru pada hari kedua tanggal 27 Maret, dilakukan uji dengan alat rapid test, saat itu di RSD belum ada swab test.pun Pada tes pertama itu, istri saya dinyatakan positif. Sementara, hasil test saya masih negatif. Kalau Istri saya dipindah ke lantai 31. Sementara saya tetap di rawat di lantai 9. Ketika itu ruang perawatan pasien PDP dan yang sudah positif dibedakan.

Baru pada tanggal 3 April atau hari ke-9 saya di RSD Wisma Atlet dinyatakan POSITIF COVID melalui Rapid Test Kedua. Hasil Positif ini “Karena dianggap inkubasi virus baru muncul 7-14 hari setelah Pasien tertular”. Keesokan harinya saya dipindah ke lantai 30, salah satu lantai yang digunakan untuk Pada pasien yang telah positif covid 19.

Selama Perawatan di RSD Covid Wisma Atlet, kunjungan dokter dilakukan dua kali sehari: pagi dan sore. Pasien disediakan makan dan minum bergizi seimbang. Ketika hasil saya Negatif, belum ada obat yang diberikan, hanya disarankan untuk minum vitamin, yang kebetulan ada saya bawa sendiri. Saya baru diberikan Obat Covid pada hari ke 11, tepatnya tanggal 6 April 2020. Ada tiga jenis diberikan, yakni Chloroquine, Oseltamivir, satu lagi Antibiotik, semuanya itu obat keras.

Setelah mengonsumsi obat, esok harinya kondisi saya memburuk. Saya mengalami muntah-muntah hebat sehingga sulit untuk menerima asupan makanan dan susah tidur. Ternyata itu adalah reaksi dari obat yang diberikan. Dokter menganjurkan memperbanyak minum air putih dan menenangkan diri.

Dari pengalaman selama 17 hari pertama di RSD Covid Wisma Atlet “yang membuat saya bisa bertahan saat itu adalah DOA dan SEMANGAT. Saya harus sembuh. Saya mendapat informasi bahwa untuk menghadapi penyakit ini, salah satunya dengan semangat,”. Selain SEMANGAT, tips lain untuk berjuang dari penyakit COVID-19 adalah tidak boleh stres dan banyak makan.

*Terbangunnya Solidaritas*

Pada pekan selanjutnya tepatnya tanggal 10 April 2020, saya kemudian mulai melakukan uji swab. Dan hasilnya POSITIF. Ketika uji SWAB ini dilakukan saya nya minum obat yang diberikan dokter dan masih dalam kondisi tidak baik. Baru kemudian saat saya terbangun di Hari Minggu Subuh untuk berdoa dan mengucap syukur atas hari Kebangkitan Kristus, saya merasakan saya segar dan keluhan sakit penyakit yang selama ini saya alami seperti hilang. Setelah saya Saat Teduh dan Beribadah Paskah secara online, saya mendapat telp dari Ketua Umum PGI-W Jawa Barat Praeses Pdt. Danner Siregar, beliau berdoa dan memberikan penguatan dan semangat. Saat itu juga saya bersaksi kepada Ketua Umum, bahwa pagi tadi saya mengalami muzijat Tuhan yang sungguh luar biasa. Doa dan Semangat juga diberikan keluarga, MPH PGIS Depok, Tokoh Gereja di Depok dan Jawa Barat serta Ketua Umum PGI. Selain itu kami sangat bersyukur mempunyai Ketua Umum Organisasi Marga Sinaga beserta istri yang begitu memperhatikan kami, terutama 2 Puteri yang kami tinggalkan lebih dari 35 hari di rumah

Setelah kondisi membaik, perawat menyarankan kami para pasien untuk menjemur dirinya di bawah sinar matahari dan berolahraga. KamiDan melakukan itu di _rooftop_. Selain itu untuk membuat sarana komunikasi antara pasien, dokter, mu perawat, maka Perawat Lantai 30 membuat sebuah Grup WhatsApp. Isi grup itu adalah laporan keluhan dari para pasien dan sarana untuk saling memotivasi antar pasien. Hal ini membuat saya tidak pernah merasa kesepian di sana karena masing-masing pasien saling mendukung, khususnya lewat grup komunikasi tersebut. Disinilah muncul solidaritas sesama pasien. Kami saling menyemangati satu dengan yang lain. Selain itu setiap pagi hari kami janjian untuk berjemur sambil berolahraga bersama. Tentunya dengan tetap menerapkan _physycal distancing._

Selain motivasi (semangat) dan banyak makan, salah satu faktor terbesar untuk sembuh adalah DOA.

Dalam perawatan di RSD Wisma tidak sedikit pasien yang merasa down dan stress. Jadi kalau ada yang merasa seperti itu, kami saling menguatkan lewat grup atau ketika berjemur bersama. Saat itu kami semua tidak lagi membedakan latar belakang dan Agama yang kami anut, semua saling mendukung dan menguatkan. Saya juga pernah bersama istri mendampingi Ibu berusia 79 Tahun yang mulai stress karena sudah lebih 2 bulan di RS (1 bln di RS Siloam dan 1 bln di RSD Wisma Atlet). Ibu ini maunya segera pulang, sementara hasil SWAB masih POSITIF. Karena Ibu ini juga adalah pengikut Kristus, maka kami bisa menguatkan dengan Firman Tuhan dan sama-sama berdoa serta makan siang bersama.

Kami juga bersyukur kepada Tuhan diberikan Perawat yang siap siaga melayani pasien seperti tak kenal lelah. Dalam satu hari mereka bekerja tiga shift. Sementara jumlah shift bertambah menjadi empat saat memasuki bulan puasa. Setelah 35 hari dirawat dan melakukan dua kali uji swab, tiga kali tes rapid, dua kali periksa rontgen, akhirnya kondisi saya sudah dianggap pulih dengan kondisi paru-parunya dinyatakan bersih. Saya bersama istrinya diperbolehkan pulang dan masih melakukan Isolasi Mandiri selama 14 hari.

Puji Tuhan yang begitu baik telah menolong dan menyelamatkan kami. Terutama saya pribadi yang selamat dan disembuhkan Tuhan meskipun saya memiliki penyakit bawaan DIABETES. Diabetes ini merupakan salah satu penyakit tertinggi yang membawa pasien positif Covid menuju kematian.

Inilah mukjizat dan pertolongan Tuhan yang saya alami. Biarlah kesaksian ini menjadi berkat.

Salam,
_*Mangaranap M. Sinaga*_
Sekum PGI-S Kota Depok
Bendahara FKUB Kota Depok
(Anto)

Related posts