SUARA MAHASISWA BANDUNG

Spread the love

Cimahi, NR,-Diskusi online yang bertemakan Refleksi gerakan mahasiswa indonesia yang diadakan oleh Suara Mahasiwa Bandung bertujuan untuk menghidupkan studi grup, kajian dan diskusi kelompok mahasiswa dengan kepemimpinan.

Peserta Diskusi Online dihadiri oleh mahasiswa di sebagian wilayah indoneisa jumlah peserta kurang lebih 100 orang berlangsung 19.30 – 23.30 WIB dihadiri langsung oleh para narasumber, Usman Hamid, Jumhur Hidayat, Syahganda Naingolan dan Lingga Pangestu Mahardhika dan Abdi Fahmi. Sabtu (08/08/2020).

Salah satu peserta diskusi Usman Hamid mantan aktifis 98 mengatakan

“Gerakan mahasiswa mulai dari 98 sampai resesi 2020 ini, tipologi gerakan mahsiswa dari zaman kezaman kelompok studi merupakan embrio dari gerakan mahasiswa lalu di manifestasikan kepada gerakan aksi jalanan, merupakan sepenggal dari penggulingan rezim suharto yang terbagi dua, yaitu Komite aksi jalanan dan Kelompok studi, Kelompok studi trisakti sebagai kajian strategis didalam kampus begitupun diluar kampus”, ucapnya.

Gerakan perubahan mahasiswa hanya sebagian komponen dari yang lainya
Seperti apa yang dikatakan Jumhur Hidayat mantan mahasiswa
aktif ITB di era 80an mengatakan,

“Setiap Perubahan keterlibatan Mahasiswa sekarang berbeda dikejar oleh pragmatisme sepeti pekerjaan cepat cepat lulus, saya khawatir jurusan universitas tidak relevan, contoh banyak doktor dan sarjana naisonal tidak bekerja baik, sudah menjadi alasan kuat untuk mahasiswa bergerak, Kita sangat mengharapkan mahasiswa bergerak bersama sama menjadi suluh dari rakyak dan memulailah mengkritisi kebijakan rezim yang tidak pro rakyat seperti halnya di era 80an,” paparnya.

Sebagai mahasiswa aktif Lingga Pangestu Mahardhika Mahasiswa Unjani mengatakan

“Saya melihat gerakan mahasiswa sekarang tidak mengerti praksisnya dalam bergerak, masih banyak yang tidak mengerti tuntutan kita tapi itu tidak masalah selama kelompok diskusi selalu mengagitasi ke masyarakat transformasikan ke mahsiswa menyadaran moral”.

Setiap kampus mempunyai konsentrasi yang menjadi masalah adalah penokohan dan itu yg menjadi permasalah mahasiswa ada celah pragmatisme”, tuturnya.

Pengamat Politik dan mantan Aktifis ITB Syahganda Naingolan mengatakan,
“Sejak kami jadi aktivis mahsiswa, mulai dari kesadaran idealisme itu kami mulai bergerak, waktu itu aktivis menjadi aneh. Kita tidak so intelektual dan so cendikiawan yang paling penting kita mempunyai idealisme disaat kita harus berjuang demi rakyat, aktivis adalah ketika melakukan refleksi ada idealisme, bebuatlah dan bertangung jawab, mahasiswa terjebak hidup hedonistik, yang paling penting kita menjaga solidaritas membela rakyat, gerakan mahasiswa diseluruh mahasiswa masih sangat eksis, sudah saatnya mahasiswa dan pemuda bangkit, ketika rakyat membutuhkan solidaritasi dampak dari elit elit, diliat rezim tidak terkendali dan bermain dengan kata kata dan janji palsu”, tegasnya.

Abdi Fahmi Mahasiswa Telkom University selaku moderator dalam diskusi menyimpulakan bahwa

“Gerakan mahasiswa banyak tantangan yang dihadapi pragmatisme, mahasiswa disusupi oleh kepentingan elit tetap menjadi dasar bergerak, mahasiswa menjaga idealisme bertanggungjawab membebaskan amanat penderitaan rakyat”, pungkasnya.

(Dewa)