Kayu Arang Yang Diduga Tidak Mengantongi Izin Membawa Musibah

Spread the love

Desa Titi Akar, Kec.Rupat Utara ,Nuansarealitanews.com,-
Peristiwa yang terjadi di Desa Titi Akar Kecamatan Rupat Utara, Kab.Bengkalis pada minggu yang lalu tepatnya hari Sabtu, 22 Agustus 2020. yang mana pada pemberitaan sebelumnya, Jimat dan Ales beserta rekan2nya yang sedang mencari kayu bakau diterpa gelombang air yang deras, dan mengakibatkan sampan yang ditumpangi Ales dan Jimat terbawa derasnya gelombang.

Peristiwa itu membawa kesedihan buat masyarakat desa Titi Akar terlebih keluarga korban sendiri. Pasalnya, saat dilakukan pencarian korban yang bernama Jimat yang ditemukan sudah tidak bernyawa lagi. sedangkan rekannya Ales yang beberapa hari dilakukan pencarian belum ditemukan. setelah 8 hari melakukan pencarian tepatnya, senin 31 Agustus 2020 korban bernama Ales ditemukan sudah tidak bernyawa serta jasad nya pun sudah tidak utuh lagi.

Terlepas dari itu awak media mencoba menelusuri terkait dengan usaha pembuat kayu Arang yang menjadi penyebab terjadinya musibah yang menelan korban tersebut, Zainal sebagai rekan korban yang saat ditemui awak media mengatakan “memang kami sudah lama melakukan pekerjaan itu pak, mencari kayu bakau dan dibakar untuk dijadikan kayu Arang, setelah itu kami jual kepada toke Atian” ungkapnya.

Team dari media pun penasaran akan sosok yang disebut sebagai toke Arang yang bernama Atian yang namanya disebut2 oleh pekerja pembuat kayu Arang, ditemui dikediamannya. Atian membenarkan bahwa ia benar sebagai toke kayu Arang .

Saat ditanya apakah ada mengantongi izin usaha tersebut toke Atian berusaha mengelak dan menunjukkan surat2 Koperasi. dimana Atian menganggap bahwa surat koperasi itu sebagai Izin usahanya.

Dari beberapa sumber yang dimintai keterangan diduga toke Atian memiliki Beking agar usahanya dapat lancar. masyarakat desa Titi Akar yang tidak ingin namanya disebut kepada wartawan “agar tidak terjadi korban lagi kami masyarakat berharap agar usaha kayu Arang itu dapat ditutup, siapa yang bisa menjamin kedepannya tidak ada yang menjadi korban lagi?” harapnya sembari bertanya. “disamping itu bapak juga lihat sendiri dalam menekuni pekerjaan itu nyawa kami yang menjadi taruhannya karena tidak ada perlengkapan keselamatan yang kami miliki”

Kepada pihak -pihak terkait kiranya menjadi perhatian yang serius untuk menutup usaha kayu Arang tersebut yang diduga belum mengantong izin, serta pihak dari kepolisian dapat melakukan penyelidikan penyebab terjadinya musibah yang merenggut nyawa Jimat dan Ales.

GuL

2 thoughts on “Kayu Arang Yang Diduga Tidak Mengantongi Izin Membawa Musibah

  • September 3, 2020 pada 01:43
    Permalink

    Nuansarealitanews sebagai media dan juga pemberi berita bagi masyarakat luas.
    tujuan dari berita yang ditulis sepertinya ada kepentingan bangsaku yang kurang atau sentimen pada pihak tertentu.
    Pemerintah kabupaten yang bijaksana,tolong tinjau lokasi Rupat Utara,bagaimana kehidupan mereka dimedan keras,jika jalan,jalanpun kurang memadai…
    jalur laut selalu jadi jalur alternatif.
    pribumi disana sejak dari leluhur sudah jadi petani bakau,itu mata pencarian dan reuntinitas mereka.
    jika perda(peraturan pemerintah kabupaten)
    bisa mengeluarkan perda yang lebih bijaksana untuk masyarakat disana.
    berikan mereka penyuluhan dan sosialisasi wajib Reboisasi mangrove bagi usaha arang.
    Dimana dana WHO untuk Reboisasi mangrove dipesisir Riau.
    tolong berikan penyuluhan atau alihkan reuntinitas menjadi reuntinitas yang bisa berikan keluarga mereka terhindar dari kelaparan.
    Jangan bicara bantuan atau kebijaksanaan pemerintah sebelum tinjau kelokasi secara seksama.
    berikan pekerja yang tetap untuk mereka,Rakyat kecil butuh makan.
    mereka yang minim pendidikan harus mengadu kemana?
    Tolong nuansarealitanews berikan masyarakat kecil di Rupat Utara jalan keluarnya sebelum Nuansarealitanews berikan jalan kematian.
    Jika bisa berikan petani bakau makan dan imbalan atas jasa arang atau kayu mereka.
    maka mereka sudah membantu secara tidak langsung.masyarakat kecil tidak mau tahu itu usaha dagang atau bukan.selama masih bisa jadikan tempat untuk hargai kerja mereka.justru yang persulitkan mereka adalah oknum oknum yang mengaku sebagai dari instansi pemerintah maupun lembaga masyarakat tapi mereka bukan peduli dengan masyarakat.jika untuk pemerasan pada pihak tertentu.baru dipakai nama masyarakat.

  • September 3, 2020 pada 18:15
    Permalink

    Saya mohon pada Pemda ..bagaimana cara mengatasi pembabatan kayu bakau di tempat kami….Siak kecil…sekatrang yg tumbuh tinggal pohon berembang 🙏🙏🙏

Komentar ditutup.