Selit Sengkarut Antroposentris

Spread the love

Oleh: Faisal Nugraha

Bandung, NR-Humanisme pernah dicanangkan oleh Socrates sekitar tahun 399 M, Humanisme membela hak-hak individu, karena manusia sendirilah yang berdaulat akan baik dan benar yang berlandas pada rasionalitas.
(Socrates, 399)

(01/09/2020).

Kebebasan manusia dalam berfikir dan bertindak adalah segala-galanya, Filsafat Humanisme mencoba memanusiakan manusia, mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang bermartabat. Manusia memiliki beberapa hak dasar yang harus dilindungi, yaitu: Hak hidup, hak berkumpul, serta hak beragama dan kepercayaan.

Sesanti leluhur Sunda yang sudah tidak asing lagi adalah: “Pangeran moal nyarek kana lampahna manusa, nanging manusia sorangan nu bakal ngabeuratkeun hirup ku lampahna” selama ini apakah Tuhan marah akan perbuatan kita? kalau Tuhan marah akan perbuatan buruk manusia berarti subtansi kasih sayang pada Tuhan hilang. Dalam hidup manusia tidak ada hukuman berat, melainkan karena perbuatan tanganmu sendiri.

Apakah Tuhan melarang anda untuk mabuk, judi, zinah dan lainnya? Sama sekali tidak. Tuhan tidak melarang sama sekali, kita bebas melakukan semuanya; seolah semuanya adalah hak prerogatif makhluk hidup bernama manusia. Namun anda jangan menyalahkan Tuhan ketika hidup anda tidak sebaik dan seberuntung orang lain, contoh:
Rezeki tidak mulus, lama dalam menggapai impian, nasib kurang beruntung dan lain-lain.

Hukuman tidaklah ada yang berat, namun “segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan kalian” (QS. Asy-Syuuraa: 30).

Enoh seorang dosen agama sekaligus Filsafat pernah berkata: “Mengapa kita harus beragama? sedangkan manusia memiliki akal untuk menilai baik buruk,” imbuh Enoh. karena dalam ilmu Islamologi dijabarkan bahwa logika memiliki batas, sedangkan logika ada yang penciptanya.

Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia diundangkan dan ditempatkan pada lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165. Penjelasan atas Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia ditempatkan pada Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886.
bahwa manusia, sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Masa Esa yang mengemban tugas mengelola dan memelihara alam semesta dengan penuh ketaqwaan dan penuh tanggung jawab untuk kesejahteraan umat manusia, oleh penciptanya.

Rawana yang sangat bersih keras dan teguh atas inginnya untuk mempersunting Sinta, tak kunjung jua, malah atas keinginannya itu Rahwana pejah. Akibat kebebasan Rahwana dalam berfikir dan bertindak mengharuskan keluarga, negara dan kekuasaannya musnah.

Personifikasi dari epos Ramayana tersebut adalah selit sengkarut dan kerancuan mengenai Hak Asasi berikut Antroposentrisme.