oleh

Kuliah Santuy “KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN” Bersama Wakil Walikota Cimahi

Spread the love

Cimahi, NR-Banyak cara dalam menggali ilmu saat Situasi dan Kondisi di masa Pandemi Covid-19, salah satunya adalah live streaming melalui media sosial Facebook yang dilakukan oleh Koordinator Program Studi Ilmu Pemerintahan (UNISKA) Karawang Dadan Kurniansyah, S.Ip.,M.Si bersama Wakil Walikota Cimahi Letkol Inf (Purn) Ngatiyana, dengan Tema “KULIAH SANTUY KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN”, bertempat di rumah kediaman Wakil Walikota Cimahi, Rabu (30/09/2020).

Dadan mengatakan bahwa di masa Pandemi Covid-19 Pembelajaran daring sudah menjadi Program di Universitas Singaperbangsa Karawang dan juga di Kampus-kampus lainnya.

“Dalam Kuliah Santuy ini, karena suasana Pandemi jadi saya pakai Face Shield, beliau juga pakai Face Shield, ini untuk menghindari jangan sampai terjadi penularan Covid, jadi Pak Wakil Walikota memberikan contoh kepada kita semua dan kita semua harus mengikuti keteladanan dalam proses menjaga Protokol Kesehatan”, ucapnya.

Dalam bincang santai nya Dadan mengajak kepada Mahasiswanya dan masyarakat yang mengikuti Kuliah Santuynya ingin menggali tentang Kota Cimahi yang mempunyai Ciri Khas Kota Militer dan Kota yang memiliki Sejuta Potensi yang mungkin menjadi program pemerintah kedepannya. Dan ketika Ngatiyana pertamakali memimpin sekitar tahun 2018 hingga 2020 sudah akan genap tiga tahun, nanti 20 Oktober menjadi Wakil Walikota.

“Apa sih perbedaan nya Memimpin di Militer dan juga Memimpin Sipil sebagai Wakil Walikota”, ketusnya.

Ngatiyana menjawab bahwa sebenarnya tidak jauh berbeda antara memimpin Militer dan Sipil,

“Kalau di Militer kan sudah jelas dari awal, mulai dari Karakter, Sikap, Perilaku, dan sebagainya, sehingga tertanamlah dimiliter tentang Disiplin, Loyalitas, dan semuanya memiliki Jiwa Korsa yang tinggi, yang tertanam di dalam Sanu Bari, sehingga sampai akhir hayat nanti sifat itu tidak bisa dihilangkan, baik itu masih dinas ataupun sudah purna”, ungkapnya.

Ngatiyana melanjutkan inilah yang terbawa di kehidupan militer dan tertanam disiplin yang sangat tinggi.

“Disiplin ini tertanam yang di mulai pada diri pribadi, keluarga, kelompok, dan secara umum, karena ini merupakan modal dasar untuk kehidupan sehari-hari, dan itu tertanam secara keseluruhan”, paparnya.

Sehingga semua yang merasa sebagai staf anggota dan sebagainya, pasti mereka taat, patuh, dan loyal terhadap pimpinannya.

Dan sebenarnya di sipil juga sama, cuma kalau dimiliter mulai di didik dari nol, sifat sipil menjadi sifat militer, dan jelas terbentuk, tetapi kalau di sipil belum pernah memiliki pendidikan tersebut, tetapi kalau contohnya di IPDN, kemudian di Kejaksaan, dan sebagainya. Dan juga yang pernah mengikuti pendidikan semi militer tentunya pasti kedisiplinan dan kebersamaan itu tertanam. Sebenarnya hampir sama antara kepemimpinan di militer dan kepemimpinan di pemerintahan atau sipil, adalah mempengaruhi terhadap orang lain atau anggotanya kebawah, sehingga dengan tulus dan ikhlas bawahannya itu mentaati, bisa bekerjasama dengan baik dalam mencapai tujuan organisasi.
Kata kuncinya adalah membangun korsa dan disiplin.

Disinggung terhadap kepemimpinan di Kota Cimahi, Ngatiyana menjelaskan bahwa, dengan cara membangkitkan semangat kepada staf dan anggotanya, dan berikan kepercayaan secara adil.

“Saya percaya kepada anggota, memberikan pekerjaan, memberikan tanggung jawab penuh, sehingga suatu saat kita mengecek, sampai dimana tanggung jawabnya terhadap tugas yang di berikan, kepada staf atau anggotanya, dan itu semua memang tergantung kita nya juga, karena tipikal pemimpin juga ada empat, yaitu:
Otoriter, nah ini biasanya digunakan oleh seorang pemimpin, yang mengedepankan keras dalam memerintah, memaksakan kehendak, dan biasanya Otoriter itu gimana saya, dipaksakan untuk dilaksanakan. dan seharusnya jangan sampai anggota melaksanakan tugas itu dengan rasa takut dan biasanya jika melaksanakan tugas dengan terpaksa dengan rasa takut pasti hasilnya tidak maksimal, karena dia mengerjakan tidak ikhlas, maka nanti laporan nya asal bapak senang, akhirnya laporannya baik-baik terus karena merasa takut dimarahi, itu tipikal otoriter.

Demokrasi, adalah keterbukaan, kebersamaan, segalanya dibicarakan, dikomunikasikan bersama, sehingga keterbukaan ini sangat di utamakan, dengan batas-batas tertentu.

Liberal, ini biasanya seperti contoh anak buah di beri kebebasan yang penting tujuan organisasi tercapai, dan biasanya nasehat nasehat dan bimbingan di berikan apabila diminta.

dan Paternalistik, bersifat kekeluargaan yang segala sesuatunya bisa secara kekeluargaan, yang ibaratnya Ayah dengan Anak.

Itu adalah satu persatu nya tipikal pemimpin dimana kita bertugas dan melaksanakan pekerjaan.

Disinggung tentang empat kriteria yang di terapkan di Cimahi kepemimpinan Wakil Walikota Ngatiyana menjawab.

“Sebelumnya saya sampaikan dulu karena saya tidak mau melangkahi pak Walikota, karena semua itu adalah kewenangan, kebijakan, semuanya ada di pimpinan, karena pimpinan itu hanya satu dan wakil itu adalah mewakili apa bila walikotanya berhalangan. Yang menarik di kepemimpinan Cimahi adalah Wakilnya ikut serta dalam membangun dalam contoh pelebaran jalan Aemed, yang karena kewenangannya dari pusat, yang sedari kepemimpinan pertama di Cimahi hingga saat ini baru bisa di selesaikan dan pengadaan alutista sebagai icon Kota Cimahi yang tanpa menggunakan APBD.

Dadan juga menegaskan kepada mahasiswanya bahwa Kolaboratif Government sangat strategis didalam mengurangi sekat-sekat kordinasi yang sulit, dan ini sudah di praktikan oleh pak Wakil Walikota Cimahi, agar bisa di pahami di dalam pembelajaran.

Sesi lain Dadan mempertanyakan tentang keteladanan di dalam masa Pandemi Covid-19.

“Kembali lagi kepada kepemimpinan tentang keteladanan itu sendiri bagi siapa yang memimpin tethadap yang dipimpin, jadi sebagai pemimpin harus memberikan contoh yang terbaik, sebagai panutan, sehingga pemimpin itu sendiri harus memiliki empat persyaratan, yang pertama adalah Ahlak yang Mulia, berbasis agama yang baik, memberikan contoh yang baik pula,tingkah laku, sopan santun, etika dan sebagainya tentang kebaikan, baik prilaku dengan ucapannya.
Yang kedua,memiliki ilmu pengetahuan yang kalau tidak dilaksanakan dengan baik walaupun setinggi apa ilmunya jika tidak di lakukan dengan dasar hati yang ikhlas akan tidak baik.
Yang ketiga Kesiapan Lahir Batin, adalah bagaimana seorang pemimpin bekerja melaksanakan tugas siap lahir batin, siap menerima kesalahan, siap menerima kebenaran, sehingga kesiapan ini seorang pemimpin bisa adil terhadap anak buah.
Yang ke empat adalah Tanggung Jawab, baik yang dilakukan sendiri maupun Tanggung Jawab yang dilaksanakan oleh anggota, karena anggota di perintah oleh pemimpin, sehingga pemimpin harus bertanggung jawab atas apa yang diperintahkan kepada anggotanya.

Menurut Ngatiyana semua pekerjaan, semua kegiatan pasti bisa dilaksanakan karena mempunyai komitmen, punya kemauan yang keras, kita mau kerja keras, serta dilakukan dengan Tulus dan Ikhlas dan di akhiri dengan pengabdian , jika sudah memiliki jiwa pengabdian seberat apapun pekerjaan serta kesulitannya pasti dan yakin bisa tercapai asal niatnya tulus dan ikhlas mengabdi untuk kepentingan bersama serta tidak luput dari koordinasi dan kolaborasi tadi”

Karena waktu yang terbatas Ngatiyana berpesan kepada mahasiswa yang mengikuti Kuliah Santuy, bahwa sebagai generasi penerus bangsa nantinya, sehingga masa depan ini akan di warnai kaula muda, yang mungkin sekian tahun lagai akan menjadi pemimpin daerahnya masing masing, dan dimanapun bisa menjadi pemimpin, salah satunya harus memiliki kemampuan, jangan pernah kendor belajar, tetap harus semangat, harus kerja keras, harus disiplin, harus mempunyai kemauan yang keras untuk meniti cita-cita, gunakan kesempatan sebaik-baiknya dan jangan sia-siakan dukungan dari orangtua”, pungkasnya.

Pandemi Covid-19 belum usai, sampaikan kepada masyarakat, keluarga dan semuanya bahwa kita harus menuruti, mentaati protokol kesehatan, memakai masker, cuci tangan, dan jangan lupa olah raga.

(Dewa)

News Feed