oleh

Disbudpar Kota Bandung Dinilai Melakukan Pemborosan Kekayaan Seniman

BANDUNG | NR | Gedung BCHC Kota Bandung dihadiri beberapa beberapa seniman ternama pentolan SMKI, Rabu pukul 09.00 WIB hingga selesai, acara tersebut bernama pemulihan ekonomi nasional DID tambahan tahun 2020 melalui seni dan budaya
(18/11/2020).

Dalam gedung yang serupa dengan gedung pertunjukan itu, tepatnya lantai 3 BCHC, berlangsung Kesenian yang menghibur, diantaranya: Longser, Sendra Silat, Ulin Barong, Kacapi Kawih Orkestra, Kawih Sunda dan Wayang Golek.

Kendati demikian sangat disayangkan kerumunan tetap terjadi dalam gedung BCHC, sekitar puluhan orang. pemeriksaan suhu tubuh tidak diindahkan panitia, tanpa ada mekanisme pemeriksaan berlanjut kepada setiap tamu yang berdatangan, tidak ada SOP Protokol Kesehatan semacam Hand Sanitizer di tempat berlangsungnya kegiatan, dan panitia diduga pula tidak menyediakan masker.

Salah satu kepala seksi menuturkan: “Alhamdulillah sesi pertama sudah ditampilkan 3 lingkung seni, dalam kegiatan pagelaran seni virtual dari dana DID tambahan tahun 2020” Imbuhnya.

Namun kegiatan tersebut dinilai kurang bijak, oleh salah satu seniman yang tidak pernah terlibat birokrasi dan diplomasi berinisial DN (23). menurutnya DISBUDPAR Kota Bandung memboroskan kekayaan rakyat untuk seniman tertentu saja.
Dalam masa pandemi ini DISBUDPAR kurang menganalisa seniman Kota Bandung yang masih menduakan sendok nasi makan, semacam nepotisme masih berlaku di DISBUDPAR Kota Bandung. Dinilai hanya orang tertentu saja yang diperhatikan oleh DISBUDPAR Bandung. Padahal setiap orang individu atau kelompok, dan berbadan hukum maupun tidak, ia adalah pemaju kebudayaan dan seharusnya menjadi perhatian pemerintah dalam UU No.5 Tahun 2017.

Di balik kemeriahan pagelaran seni virtual, masih banyak seniman yang harus menderita dalam konteks sarana dan prasarana, kita ambil contoh beberapa saja: Grup Karsiwa yang harus latihan di kamar kontrakan, GMJ Jaipong yang bertahun-tahun tidak mendapat kontribusi apapun dari pemerintah, Seni Mustika yang tidak memiliki kelengkapan apapun, beberapa seniman calung di Cibangkong yang terpaksa menjadi sampah masyarakat, dan masih banyak lainnya.

Bumi, Air dan seluruh alam yang terkandung di dalamnya diatur negara demi kedaulatan rakyat sepenuhnya. Seniman yang kaya akan makin kaya dan yang menderita akan tetap menderita selama kebibijakan pemerintah masih serut sengkalit “siapa yang akan melestarikan kesenian dan kebudayaan selain DISBUDPAR,” selama Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme seni masih berlangsung.

Sesuai dengan UU No. 12 Tahun 2018 tentang APBDN 2019 pasal 13 ayat (3) menyebutkan bahwa DID digunakan sesuai kebutuhan dan prioritas daerah antara lain:
Penyediaan Layanan Dasar Publik, Pembangunan, termasuk rehabilitasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana di bidang pemerintahan;peningkatan pelayanan berusaha di daerah;atau peningkatan kapasitas pengelolaan keuangan daerah

PERWAL BAB II No.37 Tahun 2020
PELAKSANAAN AKB
(1) setiap orang wajib menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Dilansir dari situsresmi Covid19.go.id
5 4. Memastikan lokasi acara memiliki sirkulasi udara yang baik dan memiliki fasilitas
memadai untuk mencuci tangan.
5. Memastikan ketersediaan sabun dan air untuk mencuci tangan atau pencuci
tangan berbasis alkohol.
6. Meningkatkan frekuensi pembersihan area yang umum digunakan, seperti kamar
mandi, konter registrasi dan pembayaran, dan area makan terutama pada jam
Indonesia
Positif
474.455
Sembuh
398.636
Meninggal
15.393

Hingga berita ini diterbitkan, kami masih berupaya mengkonfirmasi pihak terkait.

Bersambung….

Penulis : Faisal

News Feed