oleh

Muncul Wanita Mengaku Ibu Kandung Siti Aisyah, Pernyataannya Menuai Kontroversi

TANGERANG, NR – Baru-baru ini publik dikejutkan dengan kemunculan seorang wanita Fitriani dan Supriyadi Menuai pernyataan kontroversi. Wanita ini mengaku-ngaku sebagai ibu kandung Siti Aisyah kata Erna.

Tak hanya disitu, wanita ini diketahui bernama Fitriani dan Supriyadi mengaku ibu kandung bayi Siti Aisyah ini juga menuliskan pernyataannya dipersalinan tempat kelahiran bayi Siti Aisyah. Kedatangan Jurnalist hal tersebut sontak menjadi kontroversi.

Penasaran dengan pernyataan wanita yang mengaku-Ngaku ibu kandung Siti Aisyah? Kronologis : Berdasarkan bukti Surat otentik keterangan kenal lahir bayi Siti Aisyah diubah ubah, sampai hilang NIK/KK atas nama bayi Siti Aisyah. Tambah curiga pihak “Fitriani dan Supriyadi” terlalu berani tanpa ada putusan Pengadilan Negeri Tangerang mengambil anak asuh tanpa status keputusan Pengadilan berani berubah rubah akte otentik terakhir ditahui ibu kandung adalah Rohmah (38 tahun) Tinggal di alamat Bunian RT.06 RW.03 Desa Cisoka, Kec Cisoka, Kabupaten Tangerang.

Ternyata simak ulasan informasinya berikut ini.

Permohonan pengangkatan anak diajukan kepada Instansi Sosial Kabupaten/Kota dengan melampirkan:

1) Surat penyerahan anak dari orang tua/walinya kepada instansi sosial;

2) Surat penyerahan anak dari Instansi Sosial Propinsi/Kab/Kota kepada Organisasi Sosial (orsos);

3) Surat penyerahan anak dari orsos kepada calon orang tua angkat;

4) Surat keterangan persetujuan pengangkatan anak dari keluarga suami-istri calon orang tua angkat;

5) Fotokopi surat tanda lahir calon orang tua angkat;

6) Fotokopi surat nikah calon orang tua angkat;

7) Surat keterangan sehat jasmani berdasarkan keterangan dari Dokter Pemerintah;

8) Surat keterangan sehat secara mental berdasarkan keterangan Dokter Psikiater;

9) Surat keterangan penghasilan dari tempat calon orang tua angkat bekerja.

b. Permohonan izin pengangkatan anak diajukan pemohon kepada Kepala Dinas Sosial/Instansi Sosial Propinsi/Kab/Kota dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Ditulis tangan sendiri oleh pemohon di atas kertas bermeterai cukup;

2) Ditandatangani sendiri oleh pemohon (suami-istri);

3) Mencantumkan nama anak dan asal usul anak yang akan diangkat.

c. Dalam hal calon anak angkat tersebut sudah berada dalam asuhan keluarga calon orang tua angkat dan tidak berada dalam asuhan organisasi sosial, maka calon orang tua angkat harus dapat membuktikan kelengkapan surat-surat mengenai penyerahan anak dan orang tua/wali keluarganya yang sah kepada calon orang tua angkat yang disahkan oleh instansi social tingkat Kabupaten/Kota setempat, termasuk surat keterangan kepolisian dalam hal latar belakang dan data anak yang diragukan (domisili anak berasal).

Pengangkatan anak (adopsi) Indonesia yang dilakukan oleh Warga Negara Indonesia (WNI) terdiri dari beberapa jenis (disarikan dari
Pedoman Pelaksanaan Pengangkatan Anak terbitan Departemen Sosial Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Direktorat Bina Pelayanan Sosial Anak, hal 7-17), yaitu:

Ketika reporter Wan Januari Investigasi kepada bidan Erna Rochyati mengatakan menjalankan fungsi tugas sebagai seorang Bidan menjaga Kode Etik tidak sembarang memberikan keterangan informasi tentang kelahiran tentang seseorang. Selanjutnya Tim mediabuser.com Investigasi kepada Bidan Erna Rochyati sepakat menyampaikan informasi publik dan bidan siap menjadi saksi kunci membenarkan bayi bernama Siti Aisyah melahirkan pada hari ( Sabtu 16 Mei 2020 ), Jam 09-00 WIB.

Ternyata simak ulasan informasinya berikut ini.

Pada hari Rabu 16 Desember 2020 sekitar jam 17 : 30 WIB, Tim mediabuser.com Mengungkap Fakta Demi Keadilan mendatangi tempat Praktek Bidan Erna Rochyati yang Tempat Kejadian Perkara (TKP) di wilayah Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang Provinsi Banten, yang di terima langsung oleh Erna Rochyati sebagai Bidan tersebut, Terkait isu pemberitaan disalah satu media massa yang memberitakan ada nya pemalsuan data pasiennya yang melahirkan seorang bayi bernama Siti Aisyah berkelamin perempuan yang pada tanggal 16 Mei 2020, jam 09:00 WIB, yang dalam surat keterangan kenal lahir yang di tulis oleh Bidan, mengaku ibu kandung Fitriani dan Ayah kandung Supriyadi, itu di benarkan oleh Bidan, karena ibu Bidan bertanya langsung kepada keluarga pasien yang di jawab oleh Fitriani dan Supriyadi yang pada saat itu bersama sama dengan pasien datang ke Bidan untuk minta pertolongan kepada ke Bidan tersebut, yang mana usia kandungan pasien sudah memasuki usia persalinan, menurut ibu Bidan Fitriani dan Supriyadi mengaku- ngaku itu keluarga, jawab seorang Bidan kepada wartawan jelas nya Bahkan Bidan tersebut memberikan keterangan secara tertulis di hadapan Wartawan, Erna Rochyati Bidan memberikan keterangan Pers sambil menulis surat keterangan tersebut.

Riswanto.SH sebagai kuasa hukum Ibu Rohmah dan ayah Afandi mengatakan Fitriani dan Supriyadi jangan persulit diri sendiri dan beretikad baik segera kembalikan bayi Siti Aisyah kalau tidak kembalikan maka kami akan berupaya hukum menjalur hukum yang berlaku kata Riswanto.SH

Ditambah pihak kuasa hukum mengatakan Fitriani dan Supriyadi tidak punya hati nurani mengambil bayi Siti Aisyah tidak wajar waktu melahirkan Ibu Rohmah tidak sadarkan diri komah tempat tidur tidak dikasih menyusui bayi Siti Aisyah tersebut. Cara mengambil bayi Siti Aisyah diam-diam pergi begitu saja Fitriani dan Supriyadi, Menurut keterangan Kuasa Hukum Ibu Rohmah, Fitriani dan Supriyadi minta uang Rp.50.000.000.00,-(Lima puluh juta rupiah) untuk tembusan bayi Siti Aisyah kata Riswanto,SH.

Sesuai Hukum Tindak pidana penculikan secara umum diatur dalam Pasal 328-331 Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana, dan terkait dengan
penculikan anak secara khusus (lex specialis) diatur dalam Pasal 76F Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Barang siapa membawa pergi seseorang dari tempat kediamannya atau tempat tinggalnya sementara dengan maksud untuk menempatkan orang itu secara melawan hukum di bawah kekuasaannya atau kekuasaan orang lain, atau untuk menempatkan dia dalam keadaan sengaja, diancam karena penculikan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
Sehingga berita ini diturukan.

Hingga berita ini diterbitkan, kami masih berupaya mengkonfirmasi pihak terkait.

(Wan Januari-Red)

News Feed