Sinjai, NR-Aksi unjuk rasa (Unras) yang dilaksanakan oleh Aiansi Tahura Menggugat (ATM) bersama sejumlah mahasiswa dan Pecinta Alam (PA) Kabupaten Sinjai turun ke jalan kemudian menutup jalan yang berada di bundaran tugu bambu Sinjai, jalan Sultan isma, jalan Bhayangkara dan jalan Persatuan raya kabupaten Sinjai, Kamis (28/01/2021).

Unjuk rasa sementara berlanjut di beberapa titik dalam mengawal penolakan pembangunan bumi perkemahan, dan terek sepeda.

Muhammad Al Amin, direktur eksekutif Walhi Sulawesi Selatan mengatakan bahwa pengembangan tahura tidak harus merusak hutan untuk menjadikan tempat wisata.

“segera hentikan pembangunan bumi perkemahan di tahura Abdul Latif Sinjai dan pulihkan pembangunan lompobatang-bawakaraeng,” tegasnya.

Senada dengan , Muhlis salfat, S.TP.,MP sebagai peneliti bencana mengatakan tahura Abdul Latif Sinjai terletak di desa batu belerang termasuk ke dalam wilayah dengan curah hujan tinggi sehingga sangat rentan terjadinya longsor.

Lanjut Yusran Nurdin massa selaku (Blue forest) menjelaskan bahwa “memang di tahura adalah pemanfaatan. Tapi konteks pemanfaatan juga harus mendukung aspek ekologi bukan malahan merusak dengan dasar berada dalam blok pemanfaatan, ” ujar Yusran aktivis Walhi.

(RN)

Tinggalkan Balasan