Nuansa Realita News

GURISA: Wujud Nyata Pengelolaan Lingkungan di SMPN 50 Bandung 

Oleh: Asep Ramdani, S.S., M.Hum.  Kepala SMPN 50 Bandung Pendahuluan  Perubahan iklim, meningkatnya volume sampah, dan menurunnya kualitas lingkungan menjadi tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Berangkat dari semangat tersebut, SMPN 50 Bandung mengembangkan GURISA (Guyub Riksa Sakola) sebagai praktik baik dalam membangun budaya sekolah yang bersih, hijau, sehat, dan berkelanjutan. GURISA menjadi gerakan bersama seluruh warga sekolah untuk menjaga, merawat, dan mengelola lingkungan sekolah sebagai bagian dari pembentukan Profil Pelajar Pancasila sekaligus mendukung terwujudnya sekolah yang berwawasan lingkungan. GURISA sebagai Bagian dari Visi SMPN 50 Bandung  GURISA merupakan implementasi nyata dari visi SMPN 50 Bandung yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai salah satu karakter utama peserta didik. Program ini tidak hanya berupa kegiatan sesaat, melainkan menjadi budaya sekolah yang dilaksanakan secara konsisten oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, serta masyarakat sekitar. Melalui GURISA, seluruh warga sekolah dibiasakan untuk menjaga kebersihan, melakukan penghijauan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengelola sampah secara bertanggung jawab. Integrasi dalam Pembelajaran Intrakurikuler dan Kokurikuler  Keberhasilan GURISA didukung oleh integrasinya ke dalam proses pembelajaran. Pada kegiatan intrakurikuler, guru mengaitkan materi pembelajaran dengan isu-isu lingkungan. Mata pelajaran IPA membahas pengelolaan sampah dan ekosistem, IPS mengkaji pembangunan berkelanjutan, Bahasa Indonesia mengembangkan kemampuan literasi melalui penulisan artikel lingkungan, sementara Pendidikan Pancasila menanamkan nilai gotong royong dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Pada kegiatan kokurikuler, peserta didik melaksanakan proyek nyata berupa pengelolaan lingkungan sekolah, penanaman tanaman pangan dan tanaman obat keluarga, pembuatan kompos, pemilahan sampah, kampanye peduli lingkungan, serta pemanfaatan hasil kebun sekolah sebagai media pembelajaran kontekstual.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.