Menu

Mode Gelap
Speedboat Bawa 23 Migran Tenggelam di Pantai Kuba, 2 Orang Tewas PA 212 soal Polisi Halangi Massa di Patung Kuda: Semoga Aparat Punya Hati Nurani Massa Reuni 212 Hanya Bisa Sampai Thamrin, Putar Balik ke HI Sambil Salawat Prof Tjandra: Varian Omicron Mungkin Berdampak pada Obat Pasien COVID-19

News

Warisan Bersejarah Dari Konferensi Asia Afrika

badge-check


					Warisan Bersejarah Dari Konferensi Asia Afrika Perbesar

Dasasila Bandung adalah suatu pernyataan politik yang berisi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia. Dokumen ini lahir sebagai hasil dari Konferensi Asia Afrika (KAA) di Gedung Merdeka, Bandung, pada 18 sampai 25 April 1955. Dilansir dari laman Museum Konferensi Asia Afrika, peristiwa bersejarah yang diselenggarakan di Bandung tersebut menjadi titik balik dalam pembangunan kerja sama negara-negara Asia dan Afrika yang pada masa itu sebagian besar masih menghadapi sisa-sisa kolonialisme. Penjajahan yang dialami oleh banyak negara di dua kawasan tersebut menjadi salah satu latar belakang utama penyelenggaraan konferensi. Situasi global yang semakin tegang akibat munculnya dua blok besar yang saling bertentangan secara ideologi, yaitu Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet, juga memicu kekhawatiran akan pecahnya perang dunia baru.

Ketegangan politik dunia pada masa Perang Dingin menimbulkan keresahan bagi negara-negara yang baru merdeka maupun yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya. Karena itulah gagasan penyelenggaraan KAA akhirnya direalisasikan dengan Indonesia sebagai tuan rumah. Konferensi ini dihadiri oleh 29 negara peserta, termasuk lima negara sponsor. Pertemuan tersebut berhasil menghimpun negara-negara Asia dan Afrika dalam satu forum internasional yang setara dan menghasilkan kesepakatan prinsip-prinsip bersama yang kemudian dituangkan dalam Dasasila Bandung. Dokumen ini menjadi pedoman bagi perjuangan dekolonisasi dan memperkuat kerja sama antarbenua dalam menghadapi situasi dunia yang penuh ketegangan.

Bandung tidak hanya dikenal sebagai kota kembang yang sejuk, tetapi juga sebagai saksi lahirnya peristiwa bersejarah yang membentuk arah hubungan internasional pada abad ke dua puluh, yaitu Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Di pusat kota Bandung berdiri sebuah bangunan megah bergaya kolonial yang kini dikenal sebagai Museum Konferensi Asia Afrika, sebuah simbol solidaritas dan semangat kebebasan bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Pada awalnya bangunan ini bernama Societeit Concordia dan dirancang oleh Van Gallen Last dan C. P. W. Schoemaker pada tahun 1922. Fungsinya pada masa kolonial adalah sebagai tempat berkumpul masyarakat Eropa, terutama para pekebun di sekitar Bandung, yang datang untuk berekreasi, berpesta dansa, minum-minum, serta memamerkan busana dan aksesori mereka. Keberadaan gedung ini mencerminkan dinamika sosial kolonial yang kemudian berubah seiring perjalanan sejarah Indonesia.

Gedung bersejarah ini mengalami perubahan fungsi sesuai perkembangan politik nasional. Pada masa perang kemerdekaan bangunan ini digunakan sebagai Markas Besar Tentara Republik Indonesia. Kemudian bangunan ini menjadi Gedung Konstituante pada tahun 1950. Pada tahun 1955 gedung ini menjadi tempat pelaksanaan Konferensi Asia Afrika yang diikuti oleh 40 negara, dan pada masa ini Presiden Soekarno mengganti namanya menjadi Gedung Merdeka sebagai simbol semangat kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Setelah itu gedung ini berfungsi sebagai Gedung MPRS pada tahun 1960. Kini bangunan tersebut ditetapkan sebagai Museum Konferensi Asia Afrika yang berfungsi sebagai monumen sejarah sekaligus ruang edukasi yang menghidupkan kembali nilai solidaritas, kemerdekaan, dan perdamaian bagi generasi masa kini.

Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung merupakan salah satu museum bersejarah di Indonesia yang menyimpan warisan penting dari peristiwa KAA tahun 1955. Terletak di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Bandung, gedung ini menjadi saksi bisu pertemuan 29 negara Asia dan Afrika yang berjuang melawan kolonialisme. Peninggalan-peninggalan museum ini dapat dijadikan sumber pembelajaran sejarah yang berharga, yang terdiri dari bangunan museum dan koleksi benda-benda peninggalan yang dipamerkan. Bangunan ini sendiri terbagi menjadi tiga ruangan utama, yakni pameran tetap, perpustakaan, dan audiovisual, di mana setiap ruangan memiliki fungsi untuk mengabadikan dan menyebarkan nilai-nilai sejarah dan kebangsaan dari peristiwa bersejarah tersebut. Pada saat diresmikan, Museum KAA memang berfokus pada satu ruang pameran tetap yang menampilkan berbagai barang peninggalan dan foto-foto Konferensi Asia Afrika 1955 serta peringatan 25 tahun KAA pada tahun 1980.

Setelah melalui perjalanan sejarah yang panjang, Museum Konferensi Asia Afrika kini tidak hanya menjadi saksi peristiwa penting, tetapi juga menjadi warisan budaya yang memikat dari sisi arsitekturnya. Keanggunan bangunan bergaya kolonial ini berpadu dengan nuansa klasik yang masih terjaga hingga kini, menjadikannya salah satu ikon bersejarah di pusat Kota Bandung. Begitu melangkah ke bagian depan gedung, pengunjung langsung disambut suasana lampau yang terasa hidup dalam setiap detail arsitektur aslinya, sama seperti saat konferensi berlangsung tahun 1955. Keautentikan bangunan ini semakin memperkuat nilai historis museum sehingga pengalaman berkunjung terasa lebih bermakna.

Memasuki ruang utama museum, pengunjung seolah dibawa kembali ke masa ketika para pemimpin dunia berkumpul di sana, dengan lampu gantung besar bergaya Eropa yang memancarkan cahaya kekuningan serta kursi dan meja sidang yang tetap dipertahankan seperti kondisi aslinya. Dinding ruangan dipenuhi foto-foto hitam putih yang merekam suasana Konferensi Asia Afrika, menampilkan momen saat negara-negara Asia dan Afrika bersatu menolak imperialisme dan kolonialisme. Museum Konferensi Asia-Afrika tergolong sebagai museum event yang menceritakan suatu peristiwa sejarah perjuangan, yang bertujuan menggiring rasa emosional pengunjung untuk merasakan bagaimana perjuangan orang-orang “dunia ketiga” dalam melawan praktik-praktik kolonialisme dan imperialisme. Ruang pameran tetapnya juga menampilkan berbagai benda tiga dimensi seperti meja dan kursi asli KAA 1955, mesin tik, kamera, prangko, Bola Dunia negara peserta, serta panel dokumentasi sejarah dari Pertemuan Tugu hingga suasana dunia sebelum dan sesudah konferensi. Selain itu, sebuah diorama pembukaan Konferensi Asia Afrika dengan figur Presiden Soekarno dan tokoh-tokoh penting lainnya yang dibuat dengan fiberglass berukuran satu banding satu memberikan pengalaman visual yang kuat bagi setiap pengunjung.

Museum ini juga menyimpan beragam koleksi bersejarah lainnya, mulai dari artefak tiga dimensi, mikrofon asli yang digunakan saat konferensi, dokumen penting, hingga video dokumenter hitam putih. Koleksi dokumentasi yang tersusun rapi tersebut menggambarkan perjalanan panjang hubungan antarbangsa, mulai dari Pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, Konferensi Bogor, hingga puncaknya Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Semua ini menegaskan bahwa museum ini bukan sekadar tempat penyimpanan benda-benda sejarah, tetapi juga ruang edukasi yang menunjukkan semangat solidaritas Asia-Afrika. Selain itu, Museum KAA juga dilengkapi fasilitas seperti perpustakaan, ruang audio visual, ruang bundar, dan ruang souvenir, yang awalnya ditambahkan setelah museum berkembang dari ruang pameran tetap pertama.

Selain nilai sejarahnya, museum ini juga memberikan pengalaman visual dan edukatif bagi para pengunjung. Profil tokoh-tokoh penting seperti Soekarno, Jawaharlal Nehru, Gamal Abdel Nasser, dan Zhou Enlai ditampilkan sebagai bentuk penghargaan terhadap peran besar mereka dalam merumuskan tujuan konferensi. Museum ini juga sering dijadikan lokasi seminar, konferensi, tur edukasi, serta workshop yang membahas hubungan internasional dan perkembangan politik global. Melalui berbagai kegiatan tersebut, museum berperan aktif dalam memperkaya wawasan masyarakat mengenai dinamika politik dan kerja sama antarbangsa.

Keluar dari museum, pengunjung dapat melihat tugu peringatan berbentuk bola dunia yang melambangkan persatuan bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Tugu tersebut menjadi simbol penting yang mengingatkan pada semangat solidaritas dan kerja sama antarnegara berkembang yang dahulu dipersatukan melalui Konferensi Asia Afrika. Keberadaan tugu ini sekaligus mempertegas nilai historis sebagai warisan perjuangan melawan penjajahan dan simbol solidaritas antarnegara, yang hingga kini terus dijaga sebagai bagian dari memori kolektif bangsa. Tidak jauh dari situ, Jalan Asia Afrika membentang dengan deretan bangunan bergaya Eropa dan lampu-lampu antik yang menciptakan suasana menenangkan, terutama saat malam hari. Lingkungan sekitar yang tertata rapi dan pemandangan yang memadukan nilai sejarah dengan keindahan kota modern membuat pengunjung seolah diajak menelusuri kembali jejak sejarah yang hidup di pusat Kota Bandung.

Pengalaman berkunjung ke kawasan ini menjadi pengingat bagi generasi masa kini untuk terus menjaga dan menghargai warisan bangsa. Kawasan ini juga menanamkan semangat perdamaian dunia melalui nilai-nilai sejarah yang tersimpan di dalamnya. Suasana museum secara keseluruhan memperkuat kesan bahwa Museum Konferensi Asia Afrika merupakan simbol solidaritas global sekaligus pengingat perjuangan bangsa-bangsa berkembang. Dengan demikian, museum ini menjadi warisan berharga yang perlu dijaga agar semangat Bandung 1955 tetap menginspirasi generasi masa kini.

Tim Penulis : Mahasiswa Ilmu Komunikasi Hubungan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Ryan

    keren UIN!!

    Balas
semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

MENCIPTAKAN SITUASI KAMTIBMAS YANG KONDUSIF SATBINMAS POLRES KAPUAS LAKSANAKAN HIMBAUAN KAMTIBMAS DIWILAYAH HUKUM POLRES KAPUAS

31 Januari 2026 - 08:30 WIB

Kapolres Siak Cek Pos Satkamling Aman Damai Kandis Kota, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

31 Januari 2026 - 07:55 WIB

Isu Perombakan Kabinet Presiden Prabowo Kembali Menyita Perhatian Publik

31 Januari 2026 - 07:54 WIB

Pemkot Bandung Kaji Penataan Nama Taman Kota Berbasis Sejarah dan Budaya

31 Januari 2026 - 07:51 WIB

POLSEK KAPUAS HULU LAKSANAKAN IMBAUAN KEPADA MASYARAKAT CEGAH ADANYA LAHGUN NARKOBA

31 Januari 2026 - 05:48 WIB

Trending di News