Pemerintah Kota Bandung memastikan penanganan serius putusnya akses jalan yang menghubungkan RW 09 dan RW 10 Kelurahan Pasanggrahan.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan saat melakukan monitoring kewilayahan di wilayah Pasanggrahan, Kamis, 8 Januari 2025.

Farhan menjelaskan, terputusnya akses jalan tersebut disebabkan longsor yang terjadi pada tahun 2022 dan hingga kini belum tertangani secara menyeluruh.
Kondisi ini berdampak pada aktivitas warga, terutama akses menuju area pertanian dan lahan sawah abadi di sekitar lokasi.
“Ini akibat longsor tahun 2022 sampai hari ini belum diperbaiki. Kita akan buatkan gambar atau desain jalan yang baik,” ujar Farhan.
Namun demikian, Farhan menegaskan, pembangunan jalan tidak bisa dilakukan secara sederhana tanpa memperhitungkan potensi longsor susulan.
Oleh karena itu, aspek mitigasi bencana menjadi perhatian utama dalam perencanaan pembangunan.
“Pertanyaannya adalah bagaimana jaminannya agar tidak terjadi longsor lagi. Jadi pembuatannya tidak hanya bikin jalan, tapi juga harus dilakukan penguatan,” jelasnya.
Menurut Farhan, salah satu langkah penting yang harus dilakukan adalah reboisasi di area rawan longsor, khususnya di sisi barat lokasi yang menjadi titik utama pergerakan tanah. Penguatan vegetasi dinilai penting untuk menjaga stabilitas lereng dan mencegah terulangnya bencana serupa.
“Sisi bagian barat yang longsor itu harus diperkuat dengan reboisasi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pembangunan akses jalan nantinya akan mengintegrasikan fungsi konektivitas dan kelestarian lingkungan.
Dengan begitu, akses menuju kawasan pertanian, termasuk Sain Farm dan lahan sawah abadi, dapat kembali normal tanpa mengabaikan faktor keselamatan warga. (rob)**












