Sejak tahun 2015, Hari Santri diperingati oleh para santri di seantero negeri, sebagai hadiah politik yang awalnya diberikan Pemerintah untuk Pesantren-pesantren yang berada dalam naungan ormas keagamaan Nahdatul Ulama. Hari ini, Kamis, 22 Oktober 2026, Hari Santri masih terus diperingati meskipun dengan bentuknya yang masih seremonial. Tahun ini, Hari Santri diperingati di tengah banyaknya persoalan keumatan yang membelit negeri. Bayangkan, tidak kurang dari 4 bulan kebakaran hutan dan lahan tak kunjung bisa dipadamkan, lebih dari 60.000 ribu orang keracunan MBG, harga kebutuhan pokok dan pajak naik mencekik, bangunan-bangunan kosong koperasi terbengkalai di banyak pelosok negeri, membabi-butanya perilaku korupsi, dan masih banyak lagi.
Harapan sekaligus benteng pertahanan terakhir civil society yakni ormas-ormas keagamaan beserta para ulamanya dibuat tidak berdaya. Mereka absen dari hampir seluruh persoalan keumatan hari ini. Mereka difasilitasi dengan berbagai macam jebakan proyek dan jabatan dunia. Gembar-gembor efisiensi anggaran, malah dibuat alibi untuk obral-obral jabatan. Mereka, para ulama pun sekadar nama, kita tengah kehilangan sosok-sosok ulama yang ikhlas dan kritis terhadap proyek dan kebijakan penguasa yang ugal-ugalan.
Lalu apa makna dan gunanya Hari Santri? Apakah hanya berhenti pada cerita-cerita sejarah heroik para santri zaman dahulu yang telah berjasa memerdekakan negeri ini? Peringatan seremonial yang sebetulnya masih jauh dari substansi, ternyata Islam santri masih sebatas ramai dalam formalitas tetapi sepi dalam aktualitas. Bahkan apa yang disebut sebagai transformasi Pesantren masih jauh dari terbukti, sebab yang ada hanya aktivitas belajar dan mengajar secara formal. Para santri masih berjarak jauh dengan realitas umat dan rasa empati.
Sungguh, seremonial Hari Santri dari tahun ke tahun semakin melumpuhkan kekuatan civil society dan menjadikan nestapa negeri ini. Seolah-olah peringatan hari Santri hanya selesai pada acara apel atau upacara, atau ingar-bingar pengajian dengan biaya yang fantastis. Sudah saatnya kembali pada jati diri santri dan fitrah kemerdekaan negeri ini. Terus terang, saya sendiri sebagai santri melihat realitas peringatan Hari Santri yang berbiaya tinggi dan nestapa negeri ini sangat malu dan enggan turut terjebak dalam berbagai acara yang hanya menonjolkan seremonial.
Ada dua sosok berkarakter indigenous santri yang telah hilang, baik santri itu sendiri maupun santri sebagai Kiai yang begitu saya rindukan bangkit kembali di negeri ini. Pertama, sosok santri yang betul-betul berkarakter, idealismenya kokoh dan berjaga jarak dengan penguasa dan pejabat. Kedua, sosok Kiai yang juga berkarakter, militansi keteladanan yang kokoh dan juga berjaga jarak dengan penguasa dan pejabat.
Saya merasa sangat prihatin manakala kini, baik para santri dan Kiai yang justru berbondong-bondong mengandalkan Pemerintah. Kaum saurangan muda dan Kiainya kini terninabobokan oleh rayuan jabatan dan kenikmatan dunia. Yang belum lama ini dipertontonkan secara jelas di layar kaca, 6 dari 26 ulama kita kembali diberi jabatan sebagai Dewan Pertimbangan Presiden. Dan sampai hari ini, dari 6 orang ulama, tak ada 1 orang pun dari mereka yang lantang mengkritik Pemerintah atas kelalaiannya memadamkan kebakaran hutan dan lahan.
Saya dan saya pikir kita semua bertanya-tanya, apakah 6 orang ulama di jajaran Wantimpres itu orang miskin? Bahkan beberapa di antara mereka banyak yang tidak malu-malu sampai merangkap jabatan. Oleh para santri, pengagum dan pembelanya, keenam para ulama itu dianggap pantas mendapatkan jabatan yang rangkap karena keilmuan dan jasa-jasanya yang besar. Sejak kapan ulama berjuang dengan ilmu dan keteladanan dianggap benar saat mendapat jabatan tanpa ada komitmen kritisisme dan idealisme?
Apakah itu tujuan dari peringatan Hari Santri? Ternyata keilmuan dan segala bentuk upaya kebaikan yang selama ini ditorehkan tujuannya adalah untuk meraih jabatan. Nyaris saya melihatnya semua ke arah sana, baik yang mendaku sebagai santri apalagi mereka yang di luar santri yang juga ingin dianggap santri. Mau sampai kapan para santri dan Kiai terlena pada jebakan jabatan dunia dan nestapa negeri ini?
Wallahu a’lam
Mamang M Haerudin (Aa). Makom Albab.
Desa Kubangdeleg, Kecamatan Karangwareng.
Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah, 22 Cirebon, Oktober 2026.
