Majalengka, NR. Media sosial kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui media sosial, orang bisa berkomunikasi dengan cepat, berbagi informasi, bahkan sekadar bercanda dengan teman atau rekan kerja. Namun, di balik kemudahannya, media sosial juga menyimpan potensi kesalahpahaman akibat perbedaan persepsi dalam memahami sebuah kalimat.
Tidak sedikit perselisihan yang berawal dari salah menafsirkan pesan. Bahkan, persoalan di media sosial terkadang bisa memicu pertengkaran hingga mengganggu keharmonisan rumah tangga.
Ada sebuah pengalaman sederhana yang bisa menjadi pelajaran menarik.
Hari ini, saat menghadap ke Polsek untuk mengurus surat keterangan kehilangan, sambil merokok teringat seorang murid yang kini bertugas di Polsek tersebut. Kebetulan, petugas yang menerima laporan pun merupakan murid juga.
Iseng-iseng, saya mengambil foto dan mengirimkannya kepada Kanit melalui WhatsApp.
Setelah foto dikirim, Kanit membalas dengan pertanyaan singkat, “Bikin naon?” (Bikin apa?).
Tanpa berpikir macam-macam dan sama sekali tidak bermaksud lain, saya pun menjawab singkat, “Kehilangan istri.”
Mendapat jawaban tersebut, Kanit langsung membalas, “Aamiin, semoga dapat istri baru.”
Sontak, percakapan itu menjadi lucu. Saya pun baru menyadari bahwa jawaban singkat tersebut ternyata bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda. Setelah menyadarinya, saya membalas dengan kata “Jih”, disertai gambar ekspresi tertawa.
Dari percakapan sederhana itu, ada pelajaran penting tentang komunikasi di media sosial.
Pertanyaan “Bikin naon?” yang sebenarnya menanyakan keperluan saya di Polsek, dijawab dengan kalimat “Kehilangan istri”. Padahal, yang dimaksud adalah sedang membuat surat keterangan kehilangan milik istri.
Namun, karena kalimatnya tidak lengkap, maknanya menjadi berbeda. Jawaban tersebut seolah-olah menyiratkan bahwa saya kehilangan istri dalam arti yang sebenarnya, bukan sedang mengurus surat kehilangan.
Di sinilah letak pentingnya menyusun kalimat secara utuh dan jelas ketika berkomunikasi melalui pesan singkat. Sebab, lawan bicara tidak bisa melihat ekspresi wajah, mendengar intonasi suara, atau mengetahui secara langsung maksud di balik perkataan kita.
Kalimat yang bagi pengirimnya hanya sebuah candaan atau jawaban spontan, bisa saja dimaknai berbeda oleh penerimanya.
Karena itu, kita perlu lebih berhati-hati dalam memilih kata, terutama ketika berkomunikasi melalui media sosial. Jangan sampai maksudnya bercanda, tetapi justru menimbulkan salah paham. Jangan pula karena kurang lengkap menyusun kalimat, hubungan yang semula baik malah menjadi renggang.
Satu kata untuk Kanit: hebat!
Saya justru bangga karena memiliki anak didik yang peka dalam membaca dan menafsirkan sebuah kalimat. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa kepekaan dalam memahami bahasa juga penting dalam komunikasi sehari-hari.
Pada akhirnya, media sosial bukan hanya soal kecepatan menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut dapat dipahami dengan benar oleh orang lain.
Mari lebih bijak bermedia sosial. Sebelum menekan tombol kirim, baca kembali pesan yang kita tulis. Pastikan kalimatnya jelas, maksudnya tidak menimbulkan penafsiran ganda, dan tidak berpotensi melukai perasaan orang lain.
Ingat, satu kalimat bisa memiliki makna berbeda bagi orang yang membacanya. Berhati-hatilah dalam berkata, bijaklah dalam menulis, dan jangan mudah berprasangka.
DN
