Menu

Mode Gelap
Speedboat Bawa 23 Migran Tenggelam di Pantai Kuba, 2 Orang Tewas PA 212 soal Polisi Halangi Massa di Patung Kuda: Semoga Aparat Punya Hati Nurani Massa Reuni 212 Hanya Bisa Sampai Thamrin, Putar Balik ke HI Sambil Salawat Prof Tjandra: Varian Omicron Mungkin Berdampak pada Obat Pasien COVID-19

News

Kunci Wujudkan Bandung Kota Kreatif: Kolaborasi Warga, Seniman, dan Pemerintah

badge-check


					Kunci Wujudkan Bandung Kota Kreatif: Kolaborasi Warga, Seniman, dan Pemerintah Perbesar

Kota Bandung terus memperkuat posisinya sebagai kota kreatif dengan menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen, mulai dari warga, komunitas seni, hingga pemerintah.

 

Hal ini tercermin dalam Dialog kebudayaan bersama seniman dan budayawan Kota Bandung, Jumat 26 September 2025.

 

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut, Kota Bandung memiliki modal sosial yang kuat untuk terus berkembang sebagai kota kreatif.

 

Menurutnya, kreativitas warga tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga bisa menjadi jalan keluar untuk berbagai persoalan kota.

 

“Kreativitas harus menjadi energi bersama. Pemerintah hadir bukan untuk mengatur secara kaku, tetapi memfasilitasi agar ide-ide warga bisa tumbuh dan memberi manfaat luas,” ujarnya di Pendopo.

 

Senada dengan itu, Pengamat Budaya sekaligus Kurator Seni, Heru Hikayat menilai, keberhasilan Bandung sebagai kota kreatif terletak pada kemampuannya merawat ruang pertemuan antara masyarakat, seniman, dan pemangku kebijakan.

 

Ia mendorong agar kebijakan pembangunan tidak hanya berbasis infrastruktur, tetapi juga nilai-nilai budaya yang menjadi karakter kota.

 

“Budaya bukan sekadar tontonan atau komoditas. Budaya adalah cara kita menjaga kehidupan bersama, toleransi, dan keberagaman,” ungkap Heru.

 

Sementara itu, Pegiat Budaya dan Seni Tari, Keni K. Soeriaatmadja menyebut pentingnya peran middle ground dalam ekosistem kreatif Kota Bandung.

 

Menurutnya, ada tiga lapisan dalam masyarakat kreatif: underground (seniman dan kreator), upper ground (pemerintah dan pemangku kebijakan), serta middle ground yang berfungsi sebagai jembatan keduanya.

 

“Yang sering terlupa adalah middle ground, yaitu pihak yang bisa memahami bahasa pemerintah tapi juga mengerti nilai-nilai ideologis seniman. Bandung butuh peran ini agar kolaborasi berjalan lebih sehat,” kata Keni.

 

Ia menambahkan, budaya harus ditempatkan sebagai nilai dasar pembangunan, bukan sekadar penghias atau pencapaian formal.

 

Salah satunya dengan menjadikan toleransi sebagai haluan utama dalam rencana pembangunan daerah.

 

“Budaya bukan benda, bukan sekadar indeks kemajuan kebudayaan. Budaya adalah indeks kemajuan manusia. Orang Bandung harus tahu rasanya jadi orang Bandung, dengan segala keberagaman di dalamnya,” tuturnya.

 

Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah pihak di bidang seni budaya, antara lain Ahda Imran (Sastrawan) juga Zulfa Nasrulloh (Sastrawan).

 

Lewat kolaborasi lintas pihak, Pemkot Bandung berharap nilai-nilai budaya dan kreativitas bisa menjadi dasar pembangunan Kota Bandung.

 

Dengan begitu, Bandung bukan hanya dikenal sebagai kota kreatif, tetapi juga sebagai kota yang toleran, inklusif, dan mampu menghadirkan kemajuan bagi seluruh warganya. (ray)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Gelar Wisuda Semester Ganjil Tahun Ajaran 2025/2026

13 Mei 2026 - 15:04 WIB

25 Ekor Sapi Diduga Lolos ke Jawa, Kasus SKH Palsu di Gilimanuk Disorot: Nama Oknum Polisi Disebut, Penyidik Dipertanyakan

13 Mei 2026 - 15:01 WIB

Percepat Ekonomi Kerakyatan, Danrem 102/Pjg Tinjau Progres Pembangunan KDKMP di Kotawaringin Timur

13 Mei 2026 - 12:34 WIB

Personil polsek lakukan Patroli ke pasar harian Pujon desa Pujon.

13 Mei 2026 - 08:51 WIB

Personil Polsek kapuas tengah Rutin lakukan imbauan larangan karhutla kepada masyarakat.

13 Mei 2026 - 08:49 WIB

Trending di News