Cilacap, nuansarealitanews.com. Di balik senyum seorang guru, seringkali tersimpan kisah pengorbanan yang tak terlihat.
Inilah kisah Serirahayu, kepala sekolah SD Negeri 1 Kalijeruk, yang membuktikan bahwa dedikasi untuk mencerdaskan anak bangsa tak mengenal lelah, bahkan saat takdir berulang kali menguji fisiknya. Jum’at (19/09/2025)

Setiap hari, wanita berusia 50 tahun ini memulai perjalanannya dari Kota Cilacap menuju Kecamatan Kawunganten.
Selama hampir satu jam, ia menembus jalanan yang berliku demi satu tujuan: mengajar dan membimbing murid-muridnya.
Serirahayu, yang mengabdi sebagai pendidik sejak tahun 1997 dan kini menjabat kepala sekolah sejak 2021, tak pernah mengeluh soal jarak. Namun, di balik keteguhan hatinya, tersimpan sebuah cerita pilu.
“Nasib saya begitu ‘ngenes’ Pak,” ucap Serirahayu lirih, menceritakan empat kecelakaan motor yang ia alami.
“Sudah empat kali saya mengalami kecelakaan bermotor yang berbeda motor. Mulai dari patah kaki, belum sembuh total, dan kini tangan saya juga patah. Ini aja masih diperban.”
Kisah tragis itu dimulai saat ia masih berstatus siswa SPG, di mana kaki kanannya patah dan harus digips.
Musibah kembali datang pada tahun 2022. Saat hendak berangkat ke sekolah untuk persiapan HUT RI ke-77, ia mengalami kecelakaan parah yang membuat kaki kanannya fraktur dan harus dipasangi 9 pen.
Tak berhenti sampai di situ, pada tahun 2024 ia kembali jatuh, menyebabkan kaki kanan dan pergelangan tangan kirinya patah. Cobaan terakhir, tangannya yang patah dan harus dipasangi 3 pen.
Meskipun tubuhnya tak lagi sempurna, semangat Serirahayu tak pernah padam. Ia tetap bersyukur.
“Tapi Alhamdulillah, kondisi saya sudah berangsur membaik, walau jalannya tidak sempurna lagi seperti dulu,” ungkapnya dengan ketulusan. Baginya, sisa kekuatan yang ia miliki adalah anugerah untuk terus mengabdi.
Kisah Serirahayu adalah cerminan dari pengorbanan luar biasa para guru di seluruh pelosok negeri.
Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang di balik layar, seringkali dengan risiko besar, demi masa depan generasi penerus.
Kisah ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih menghargai para guru dan menjadi dorongan bagi pemerintah untuk memberikan perhatian lebih, seperti dukungan transportasi yang aman, agar para pendidik bisa menjalankan tugas mulianya tanpa dihantui rasa cemas.
Semoga kisah ini dapat menyentuh hati dan menginspirasi kita semua untuk lebih peduli.
(Sas NR)












