JATIWANGI, Nuansa Realita – Usia senja bukanlah penghalang untuk terus berkarya dan mengabdikan diri kepada masyarakat. Semangat itulah yang tercermin dari sosok H. Apip, tokoh masyarakat asal Burujul Wetan, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, yang hingga kini tetap aktif memberikan pemikiran dan kontribusinya bagi Persyarikatan Muhammadiyah.
Sebagai salah satu tokoh Muhammadiyah di Jatiwangi, H. Apip saat ini mengemban amanah sebagai penasihat Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jatiwangi. Pengalaman panjang, pemikiran yang progresif, serta komitmennya terhadap organisasi menjadi bagian penting dari perjalanan Muhammadiyah di wilayah tersebut.
Dedikasinya dalam membesarkan organisasi yang pernah dipimpinnya menjadi salah satu bukti kecintaan H. Apip terhadap Muhammadiyah. Baginya, keberadaan organisasi bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan sarana perjuangan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Perjalanan Muhammadiyah Jatiwangi dari masa ke masa tentu mengalami dinamika, termasuk dalam pengelolaan amal usaha persyarikatan, seperti SMP Muhammadiyah (SMPM) dan SLB Muhammadiyah (SLBM). Berbagai tantangan yang dihadapi menjadi pekerjaan rumah bersama yang perlu disikapi dengan semangat pembenahan dan pengembangan berkelanjutan.
H. Apip berharap, amal usaha Muhammadiyah dapat terus berkembang sehingga keberadaannya semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Kita ingin organisasi ini besar dan bermanfaat bagi masyarakat banyak. Walaupun masih banyak keterbatasan, kita harus terus berupaya mendongkrak dan mengembangkan amal usaha yang ada di persyarikatan,” ungkap H. Apip kepada Nuansa Realita.
Keteguhan pendirian dan komitmennya terhadap Muhammadiyah menjadi cerminan semangat seorang tokoh yang tidak ingin berhenti berjuang hanya karena usia yang semakin bertambah. Baginya, pengabdian kepada masyarakat merupakan perjalanan panjang yang harus terus dilanjutkan selama masih memiliki kemampuan untuk berkontribusi.
Di tengah berbagai tantangan organisasi, pemikiran dan pengalaman para tokoh senior seperti H. Apip dinilai penting sebagai sumber inspirasi bagi generasi penerus. Regenerasi kepemimpinan, penguatan organisasi, serta pengembangan amal usaha menjadi langkah penting agar Muhammadiyah Jatiwangi semakin maju dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Di usia senja ini, saya ingin terus mengabdikan diri kepada masyarakat melalui Persyarikatan Muhammadiyah. Masih banyak yang harus dibenahi,” pungkasnya.
Semangat H. Apip menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak mengenal batas usia. Dengan keteguhan prinsip dan kecintaan terhadap persyarikatan, ia terus berharap Muhammadiyah Jatiwangi dapat tumbuh menjadi organisasi yang semakin kuat, mandiri, dan bermanfaat bagi umat.
DN









