Tugas Tambahan Guru Bertambah, Pengelolaan Ompreng MBG Ikut Menyita Waktu Belajar

Majalengka, NR – Di tengah seabrek tugas administrasi yang harus diselesaikan, mulai dari program tahunan (prota) hingga evaluasi pembelajaran, guru kini juga dihadapkan pada tugas tambahan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk menghitung dan mengelola ompreng atau wadah makanan yang digunakan untuk mendistribusikan makanan kepada siswa.

Ketika tim Nuansa Realita (NR) mengunjungi salah satu sekolah di Kabupaten Majalengka, terlihat sejumlah guru sibuk menghitung ompreng setelah kegiatan makan siswa. Di sisi lain, ada pula yang memindahkan sisa nasi ke dalam kantong plastik.

Saat ditanya mengenai tujuannya, salah seorang guru mengatakan bahwa sisa nasi tersebut masih bisa dimanfaatkan untuk pakan ayam.

Pemandangan tersebut menggambarkan bahwa pelaksanaan program MBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bergizi bagi siswa, tetapi juga melibatkan tenaga pendidik dalam berbagai kegiatan pendukung, mulai dari pendistribusian makanan, pemantauan siswa saat makan, hingga pengumpulan dan penghitungan kembali ompreng.

Sebelum jam istirahat dimulai, ompreng sudah disiapkan untuk didistribusikan kepada siswa. Ketika waktu istirahat tiba, guru pun tetap menjalankan tugas memantau kegiatan makan siswa agar berlangsung tertib.

Namun, di balik pelaksanaan program tersebut, terdapat persoalan mengenai waktu dan beban kerja guru yang perlu mendapat perhatian.

“Walaupun guru terus mendampingi siswa, tetap saja ada waktu belajar yang tersita,” ungkap salah seorang guru yang enggan disebutkan namanya kepada NR.

Ia mengakui bahwa program MBG merupakan program pemerintah yang perlu didukung dan disukseskan. Meski demikian, menurutnya, pelaksanaan di lapangan masih memiliki sejumlah kekurangan yang perlu dievaluasi dan diperbaiki secara bertahap.

Terkait pelaksanaan MBG di MTsN 5 Majalengka, seorang guru menyampaikan bahwa sejauh ini tidak ditemukan persoalan yang dianggap krusial. Secara umum, program berjalan dengan baik, meskipun sisa makanan masih kerap ditemukan setiap hari.

“Untuk sekolah kami sendiri, MTsN 5 Majalengka, tidak ada masalah yang krusial. Walaupun makanan selalu ada yang tersisa, pada umumnya semua berjalan dengan baik,” tuturnya.

Ia juga menyoroti pentingnya memperhatikan keseimbangan gizi dalam menu yang disajikan. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan gizi siswa tidak hanya dilihat dari jumlah makanan yang diberikan, tetapi juga dari variasi dan kandungan gizinya.

“Empat sehat lima sempurna juga perlu diperhatikan, terutama pemberian susu yang baru satu kali dalam seminggu. Kalau yang lainnya sudah cukup lumayan,” ungkapnya.

Selain persoalan menu, sisa makanan menjadi hal yang hampir setiap hari dijumpai. Jumlahnya terkadang cukup banyak hingga harus dikumpulkan dalam beberapa kantong plastik. Kondisi ini menjadi bahan evaluasi agar penyediaan makanan dapat semakin sesuai dengan kebutuhan dan selera siswa sehingga makanan yang disajikan bisa dikonsumsi secara optimal.

Meski demikian, guru tersebut menyampaikan bahwa hingga saat ini pelaksanaan program MBG di sekolahnya masih berlangsung aman dan terkendali.

“Tidak menutup mata, memang sisa makanan inilah yang setiap hari selalu ada dan jumlahnya lumayan, sampai beberapa keresek. Alhamdulillah, sampai saat ini aman-aman saja,” ujarnya sambil membereskan ompreng.

Pelaksanaan program MBG di sekolah tentu membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar tujuan pemenuhan gizi siswa dapat tercapai. Namun, evaluasi secara berkala tetap diperlukan, baik terkait kualitas dan kesesuaian menu, pengelolaan sisa makanan, maupun mekanisme pendistribusian dan pengembalian ompreng.

Di sisi lain, pembagian tugas yang proporsional juga penting agar keterlibatan guru dalam mendukung program pemerintah tidak sampai mengurangi waktu dan konsentrasi mereka dalam menjalankan tugas utamanya, yakni mendidik serta mendampingi proses belajar siswa.

Dengan demikian, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari tersalurkannya makanan kepada siswa, tetapi juga dari efektivitas pelaksanaannya, kualitas gizi yang diberikan, serta keberlangsungan proses pembelajaran di sekolah.

DN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *