Majalengka, NR – SMP Muhammadiyah Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, kembali membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya pada tahun ajaran 2026–2027. Berdiri sejak 1 Agustus 1963, sekolah ini termasuk salah satu lembaga pendidikan swasta tertua di wilayah Jatiwangi yang telah berkontribusi dalam dunia pendidikan selama lebih dari enam dekade.
Sepanjang perjalanan sejarahnya, lembaga pendidikan Muhammadiyah di Jatiwangi telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah di berbagai bidang. Tidak sedikit lulusan yang kemudian mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik, anggota kepolisian, serta profesi lainnya di tengah masyarakat.
Selain SMP Muhammadiyah, dahulu juga terdapat SMA Muhammadiyah yang berdiri hingga tahun 1995 serta SPG Muhammadiyah yang mencetak lulusan sampai tahun 1983, setelah menjalankan kegiatan pendidikan dalam dua angkatan terakhirnya.
Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari sejarah perjuangan Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya masyarakat Jatiwangi dan sekitarnya.
Di tengah berbagai perubahan zaman dan dinamika dunia pendidikan, SMP Muhammadiyah Jatiwangi tetap bertahan dan berupaya memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Pasang surut jumlah peserta didik menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah swasta, terlebih dengan semakin banyaknya sekolah negeri maupun swasta yang berdiri di wilayah Jatiwangi dan sekitarnya.
Persaingan tersebut menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Sekolah dituntut untuk terus berbenah, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta membangun kepercayaan masyarakat agar tetap menjadi pilihan bagi orang tua dalam menentukan pendidikan anak-anaknya.
SMP Muhammadiyah Jatiwangi pernah menghadapi masa sulit pada periode 1983–1987, ketika persaingan lembaga pendidikan semakin meningkat seiring bermunculannya sekolah-sekolah baru. Namun, sekolah ini kembali menunjukkan geliat perkembangan sejak tahun 2004, dengan peningkatan jumlah siswa yang cukup signifikan.
Perjalanan tersebut kembali menghadapi tantangan sejak 2023. Kebijakan pengangkatan tenaga honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), yang diikuti perpindahan sejumlah tenaga pendidik ke sekolah negeri, turut memengaruhi ketersediaan guru di sekolah swasta.
Kondisi tersebut mengharuskan sekolah melakukan penyesuaian tenaga pengajar. Situasi ini menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kesinambungan proses pembelajaran sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat.
Meski demikian, dengan dukungan bangunan sekolah yang layak dan tenaga pendidik yang kompeten, SMP Muhammadiyah Jatiwangi optimistis dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.
Keberadaan SMP Muhammadiyah dan SMK Muhammadiyah di kawasan Burujul juga menjadi peluang bagi masyarakat sekitar untuk memperoleh pendidikan melalui lembaga yang dikelola organisasi Muhammadiyah, salah satu organisasi kemasyarakatan yang telah lama berkiprah di Indonesia.
Masyarakat di wilayah Burujul, Jatiwangi, Kasokandel, dan Dawuan diharapkan dapat mempertimbangkan SMP Muhammadiyah Jatiwangi sebagai salah satu pilihan pendidikan bagi putra-putrinya.
Dudung Abdullah, guru yang telah mengabdikan diri sejak 1986 sekaligus alumni Mu’allimin Yogyakarta, berharap SMP Muhammadiyah Jatiwangi dapat terus berkembang dan mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan dunia pendidikan.
Menurutnya, pengembangan sekolah tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan jumlah siswa, tetapi juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas lulusan.
Harapan tersebut menjadi bagian dari semangat untuk terus memperkuat mutu pendidikan, membangun karakter peserta didik, serta menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi tantangan masa depan.
Dengan semangat pengabdian yang telah terbangun selama puluhan tahun, SMP Muhammadiyah Jatiwangi diharapkan tetap menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam memperoleh pendidikan yang berkualitas.
DN
