KETIKA MANUSIA LUPA MENJADI MANUSIA

Pendidikan Kehilangan Ruhnya
Oleh: Prof. Dr. Yoyon Suryono |
Untuk apa manusia dididik, jika setelah selesai dididik ia justru semakin jauh dari kemanusiaannya?

Pertanyaan itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah persoalan yang begitu besar. Tetapi justru pertanyaan sederhana kadang membawa kita pada tempat yang paling dalam. Kita telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekolah dan perguruan tinggi. Kita membangun gedung-gedung pendidikan, membuka semakin banyak program studi, mencetak semakin banyak lulusan, mengembangkan berbagai ukuran mutu, mengejar akreditasi, memperbanyak penelitian, dan merayakan wisuda sebagai tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan sebuah tahap kehidupan.

Semua itu penting. Tidak ada alasan untuk menolak pendidikan, ilmu pengetahuan, gelar akademik, penelitian, ataupun universitas. Masalahnya mungkin bukan pada semua itu, melainkan pada sesuatu yang perlahan dapat bergeser di belakangnya: untuk apa semua itu kita lakukan?

Sebab pendidikan dapat tetap berjalan secara administratif, tetapi kehilangan ruhnya secara perlahan. Sekolah tetap buka, kampus tetap ramai, dosen tetap mengajar, mahasiswa tetap datang, ujian tetap berlangsung, nilai tetap keluar, wisuda tetap digelar, dan ijazah tetap dibagikan. Dari luar semuanya tampak baik-baik saja. Namun manusia dapat saja menyelesaikan seluruh proses itu tanpa sungguh-sungguh mengalami proses menjadi manusia yang lebih matang.

Di situlah kegelisahan bermula.

Kita hidup dalam masyarakat yang semakin menghargai hasil yang dapat dilihat. Nilai dapat dilihat. Ijazah dapat dilihat. Gelar dapat ditulis. Jabatan dapat diumumkan. Publikasi dapat dihitung. Peringkat dapat dibandingkan. Akreditasi dapat dipajang. Bahkan keberhasilan seseorang dapat dipertontonkan setiap hari melalui layar.

Yang tidak mudah dilihat adalah apa yang terjadi di dalam diri manusia selama proses itu.

Apakah ia menjadi lebih jujur? Apakah ia menjadi lebih bertanggung jawab? Apakah ia semakin mampu memahami orang lain? Apakah ia mampu mengakui kesalahan? Apakah ia memiliki keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang dianggap sudah benar? Apakah pengetahuannya membuatnya semakin rendah hati?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak mudah dimasukkan ke dalam sistem penilaian.

Universitas berada tepat di tengah persoalan ini. Kita berharap universitas menjadi rumah ilmu, tempat manusia belajar berpikir dan mencari kebenaran. Kita berharap ruang kuliah tidak sekadar menjadi tempat memindahkan materi, tetapi menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, pengalaman, pertanyaan, dan kenyataan hidup.

Namun universitas juga merupakan institusi yang harus bertahan. Ia berhadapan dengan regulasi, akreditasi, pembiayaan, persaingan, kebutuhan pasar kerja, tuntutan kinerja, administrasi, teknologi, publikasi, dan berbagai ukuran keberhasilan lainnya. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan universitas modern.

Tetapi ada bahaya ketika ukuran tentang pendidikan mulai lebih penting daripada makna pendidikan itu sendiri.

Mahasiswa akhirnya dapat belajar terutama untuk mendapatkan nilai. Dosen dapat mengajar terutama untuk memenuhi kewajiban. Peneliti dapat mengejar publikasi karena tuntutan sistem. Perguruan tinggi dapat mengejar indikator karena ingin terlihat berhasil. Semua orang bekerja keras, tetapi tidak selalu memiliki kesempatan untuk berhenti dan bertanya apakah kerja keras itu masih membawa kita kepada tujuan pendidikan.

Di sinilah kita perlu kembali kepada pertanyaan yang lebih tua daripada sistem pendidikan modern itu sendiri: apa sebenarnya yang hendak kita tumbuhkan melalui pendidikan?

Ki Hadjar Dewantara memberi arah yang sangat penting ketika pendidikan dipahami sebagai proses menuntun tumbuhnya manusia. Pendidikan bukan sekadar memasukkan pengetahuan ke dalam kepala peserta didik, melainkan membantu manusia berkembang sesuai potensi dan kodratnya agar mampu menjalani kehidupan secara merdeka sekaligus bertanggung jawab.

Jika gagasan itu kita bawa ke universitas, mahasiswa tidak dapat dipandang hanya sebagai calon tenaga kerja atau angka dalam statistik penerimaan dan kelulusan. Ia adalah manusia yang sedang tumbuh. Ia sedang belajar mengambil keputusan, mengenali kemampuan, menghadapi kegagalan, berhadapan dengan perbedaan, dan perlahan memikul konsekuensi dari pilihannya sendiri.

Karena itu, pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya bertanya apakah seorang mahasiswa sudah menguasai mata kuliah, tetapi juga apakah proses belajar telah membuatnya semakin mampu menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Al-Ghazali membawa kita masuk lebih dalam lagi, ke hubungan antara ilmu dan pembentukan diri. Pengetahuan tidak berhenti pada apa yang diketahui. Ia seharusnya memiliki pengaruh terhadap cara manusia menjalani hidup. Ilmu yang bertambah tetapi tidak mengubah perilaku menyisakan pertanyaan tentang jarak antara mengetahui dan menjadi.

Kita dapat mengetahui bahwa kejujuran penting, tetapi tetap berbohong ketika kebohongan menguntungkan diri sendiri. Kita dapat memahami bahwa lingkungan harus dijaga, tetapi tetap membiarkan kerusakan ketika keuntungan pribadi berada di depan mata. Kita dapat berbicara tentang keadilan, tetapi mengabaikannya ketika ketidakadilan justru menguntungkan kelompok kita.

Di situlah kita menyadari bahwa mengetahui yang baik tidak otomatis membuat manusia melakukan yang baik.

Pendidikan memiliki pekerjaan yang jauh lebih sulit daripada sekadar membuat manusia tahu.

Ia harus membantu manusia menjadi.

Ibn Khaldun mengingatkan kita pada pentingnya proses dalam pembelajaran. Pengetahuan tidak tumbuh dengan baik melalui pemaksaan dan tergesa-gesa. Ada tahapan, latihan, pengulangan, pengalaman, dan perkembangan kemampuan yang perlu dihormati. Manusia memiliki kapasitas yang tumbuh secara bertahap.

Gagasan itu terasa semakin relevan dalam zaman yang begitu menyukai kecepatan. Kita ingin cepat lulus, cepat bekerja, cepat mendapatkan penghasilan, cepat memperoleh jabatan, bahkan cepat terlihat berhasil. Teknologi membuat banyak hal dapat diperoleh dalam hitungan detik sehingga kita mulai mengira bahwa semua proses kehidupan semestinya dapat dipercepat dengan cara yang sama.

Padahal manusia bukan mesin.

Informasi dapat datang seketika, tetapi pemahaman membutuhkan waktu. Pengetahuan dapat diperoleh dengan cepat, tetapi kebijaksanaan tumbuh melalui pengalaman. Gelar dapat diberikan pada suatu hari tertentu, tetapi kedewasaan tidak lahir pada hari wisuda.

Paulo Freire kemudian membawa kita pada pertanyaan lain: apakah pendidikan membuat manusia mampu membaca dunia, atau hanya membuat manusia mampu menyesuaikan diri dengan dunia yang sudah ada?

Pendidikan yang hidup semestinya memberi ruang kepada peserta didik untuk bertanya, berdialog, membaca kenyataan, menyadari persoalan, dan memahami bahwa pengetahuan memiliki hubungan dengan kehidupan. Mahasiswa bukan hanya perlu mengetahui teori kemiskinan, ketimpangan, kerusakan lingkungan, perubahan teknologi, atau persoalan sosial. Mereka juga perlu belajar melihat manusia yang hidup di balik semua persoalan itu.

Sebab sebuah pendidikan dapat menghasilkan orang yang sangat pintar menjelaskan kemiskinan tetapi tidak peka terhadap orang miskin. Ia dapat menghasilkan orang yang menguasai teori kepemimpinan tetapi tidak mampu bertanggung jawab ketika memperoleh kekuasaan. Ia dapat menghasilkan orang yang sangat fasih berbicara tentang etika tetapi menemukan banyak alasan ketika kepentingannya sendiri dipertaruhkan.

Di sinilah pendidikan kehilangan ruhnya: ketika pengetahuan terpisah dari kehidupan.

Maka universitas tidak seharusnya hanya menjadi tempat untuk mencari jawaban. Ia juga harus menjadi tempat untuk belajar mengajukan pertanyaan yang benar. Mengapa masyarakat masih mengalami ketimpangan ketika ilmu semakin maju? Mengapa teknologi yang seharusnya memudahkan kehidupan justru dapat membuat manusia semakin terasing? Mengapa lulusan semakin banyak tetapi sebagian persoalan sosial tidak juga berkurang? Mengapa manusia semakin mudah memperoleh informasi tetapi tidak selalu semakin bijaksana dalam menggunakannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu menghasilkan jawaban yang nyaman. Tetapi universitas yang takut kepada pertanyaan akan kehilangan salah satu alasan terpenting mengapa ia dibutuhkan masyarakat.

Di ruang akademik, seseorang semestinya belajar bahwa mengatakan “saya belum tahu” bukanlah kelemahan. Justru kemampuan mengakui ketidaktahuan merupakan awal dari pencarian pengetahuan. Orang yang merasa sudah mengetahui semuanya tidak lagi memiliki ruang untuk belajar.

Karena itu, dosen tidak seharusnya hanya menjadi orang yang paling banyak mengetahui di ruang kelas. Ia juga perlu menjadi orang yang mampu menumbuhkan keberanian mahasiswa untuk berpikir. Peneliti tidak cukup hanya menghasilkan karya yang memenuhi persyaratan akademik. Ia perlu memiliki kejujuran untuk berhadapan dengan kenyataan, bahkan ketika hasil penelitian tidak sesuai dengan dugaan atau kepentingan.

Demikian pula universitas tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang mudah diserap dunia kerja. Ia harus menghasilkan manusia yang ketika masuk ke dunia kerja tetap membawa kemampuan untuk belajar, berpikir, bekerja bersama, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan akibat dari keputusan itu.

Sebab dunia kehidupan tidak menyediakan kisi-kisi ujian.

Ada saat ketika seseorang harus memilih tanpa mengetahui seluruh akibatnya. Ada keadaan ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan kepentingan orang banyak. Ada situasi ketika aturan belum cukup menjawab persoalan. Pada saat seperti itu, manusia tidak dapat bersembunyi di balik ijazahnya.

Ia harus menggunakan kedewasaannya.

Maka ijazah sebenarnya bukan akhir pendidikan. Ia hanyalah tanda bahwa seseorang telah melewati suatu tahap formal. Gelar pun bukan bukti bahwa seseorang telah menjadi bijaksana. Ia hanya menunjukkan bahwa seseorang telah mencapai suatu tingkat tertentu dalam perjalanan akademiknya.

Yang menentukan makna semua itu justru apa yang dilakukan manusia setelahnya.

Jika ilmu membuat manusia semakin rendah hati, pendidikan sedang menemukan ruhnya. Jika ilmu membuat manusia semakin bertanggung jawab, pendidikan sedang menemukan maknanya. Jika gelar membuat seseorang merasa memiliki kewajiban untuk memberi manfaat lebih besar, gelar itu memperoleh martabatnya.

Sebaliknya, jika pendidikan hanya membuat manusia semakin pandai mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri, kita patut bertanya apakah kita sedang menghasilkan manusia terdidik atau hanya manusia yang lebih terampil memenuhi kepentingannya.

Pertanyaan ini tidak hanya ditujukan kepada universitas.

Ia juga ditujukan kepada kita semua.

Sebab sistem pendidikan dibangun oleh manusia dan dijalankan oleh manusia. Dosen, mahasiswa, orang tua, pengelola, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat semuanya ikut membentuk wajah pendidikan. Kita tidak dapat meminta universitas menghasilkan manusia yang jujur apabila masyarakat justru memberikan penghargaan lebih besar kepada mereka yang pandai mencari jalan pintas.

Kita tidak dapat menuntut mahasiswa menghargai proses apabila kehidupan di luar kampus terus mengajarkan bahwa yang penting adalah hasil dan bagaimana hasil itu terlihat.

Kita tidak dapat meminta anak-anak belajar bersabar apabila orang dewasa di sekeliling mereka terus menunjukkan bahwa segala sesuatu harus diperoleh secepat mungkin.

Barangkali di situlah persoalan pendidikan menjadi persoalan kebudayaan.

Kita sedang membangun sebuah zaman yang sangat menghargai kecepatan, tetapi tidak selalu menghargai proses. Kita mudah mengagumi hasil, tetapi jarang ingin melihat perjalanan panjang di belakangnya. Kita ingin buahnya, tetapi tidak selalu sabar merawat pohonnya.

Padahal manusia tidak tumbuh seperti produk pabrik. Ia tumbuh melalui perjalanan waktu, ketika belajar mengakui kesalahan, menerima kegagalan, dan memahami pengalaman yang kadang menyakitkan. Dalam perjumpaan dengan orang lain, ia menemukan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mencoba kembali setelah jatuh. Melalui proses itulah pengetahuan perlahan menjadi pemahaman, pemahaman berkembang menjadi kebijaksanaan, dan kebijaksanaan menemukan wujudnya dalam tanggung jawab.

Mungkin karena itu kita perlu kembali belajar dari alam.

Mangga tidak matang karena dipaksa. Ia matang karena proses yang berlangsung perlahan di pohon. Ada waktu yang tidak dapat dilompati, ada musim yang tidak dapat diperintah, dan ada perubahan yang hanya terjadi ketika waktunya tiba.

Manusia pun demikian.

Kita boleh mempercepat akses kepada ilmu. Kita boleh memperbaiki sistem pendidikan. Kita boleh menggunakan teknologi agar belajar menjadi lebih mudah. Kita boleh membuka jalan agar seseorang memperoleh kesempatan lebih luas.

Tetapi jangan sampai kita mengira bahwa kemudahan memperoleh pengetahuan sama dengan kematangan manusia.

Seseorang dapat memperoleh gelar dalam waktu tertentu, tetapi belum tentu memperoleh kedewasaan pada waktu yang sama. Ia dapat menyelesaikan pendidikan dengan nilai tinggi, tetapi kehidupan masih akan mengujinya dengan persoalan yang tidak pernah diajarkan dalam buku.

Karena itu, mungkin tugas pendidikan bukan membuat manusia segera tampak matang, melainkan menyediakan ruang agar manusia benar-benar matang.

Di situlah gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang menuntun pertumbuhan manusia, perhatian Al-Ghazali terhadap hubungan ilmu dan pembentukan diri, penekanan Ibn Khaldun pada proses belajar, dan kritik Paulo Freire terhadap pendidikan yang mematikan kesadaran menemukan perjumpaan yang menarik.

Mereka tidak berbicara dalam bahasa zaman kita. Mereka tidak menghadapi seluruh persoalan universitas modern seperti yang kita hadapi sekarang. Tetapi gagasan mereka membantu kita melihat satu hal yang sering terlupakan: pendidikan pada akhirnya berbicara tentang manusia, bukan sekadar tentang sistem.

Karena itu, universitas boleh memiliki gedung yang megah, teknologi yang canggih, program studi yang banyak, profesor dan doktor yang hebat, penelitian yang melimpah, serta berbagai indikator keberhasilan yang membanggakan. Semua itu patut dihargai.

Tetapi di balik semua kebanggaan itu tetap ada pertanyaan yang sederhana dan mungkin justru paling sulit dijawab: manusia seperti apa yang sedang kita tumbuhkan?

Sebab pada akhirnya, pendidikan tidak selesai ketika seseorang menerima ijazah. Ia justru mulai diuji ketika ijazah itu tidak lagi dapat menolongnya mengambil keputusan. Ilmu diuji ketika harus digunakan untuk kepentingan orang lain; kedewasaan diuji ketika jabatan datang bersama godaan dan kekuasaan menawarkan keuntungan; sementara integritas diuji ketika kejujuran terasa lebih mahal daripada kebohongan. Pada saat seseorang harus memilih antara apa yang menguntungkan dirinya dan apa yang benar bagi kehidupan bersama, pendidikan menemukan makna yang sesungguhnya.

Di situlah pendidikan menemukan muaranya, bukan semata-mata pada banyaknya pengetahuan yang berhasil disimpan, melainkan pada kualitas manusia yang lahir dari proses belajar itu.

Mungkin kita memang perlu kembali memperlambat langkah. Bukan untuk menolak kemajuan, tetapi untuk memastikan bahwa manusia tidak tertinggal oleh kemajuan yang ia ciptakan sendiri. Bukan untuk mengurangi pentingnya ijazah, gelar, kompetensi, penelitian, atau universitas, tetapi untuk mengembalikan semuanya kepada tempat yang semestinya.

Sebab ijazah adalah tanda dari sebuah proses, bukan pengganti proses. Gelar adalah penghargaan atas perjalanan akademik, bukan jaminan kebijaksanaan. Universitas adalah ruang pendidikan, bukan pabrik manusia. Dan ilmu adalah amanah yang seharusnya membuat manusia semakin sadar akan tanggung jawabnya terhadap kehidupan.

Maka barangkali pendidikan yang kehilangan ruh bukanlah pendidikan yang kekurangan pengetahuan. Ia adalah pendidikan yang lupa kepada manusia yang hendak ditumbuhkannya.

Dan mungkin karena itu kita tidak perlu buru-buru memetik hasilnya hanya karena dari luar ia sudah tampak besar. Ada buah yang membutuhkan waktu untuk menemukan rasanya, sebagaimana ada manusia yang membutuhkan perjalanan untuk menemukan kedewasaannya.

Biarkan mangga matang di pohon.

Barangkali demikian pula pendidikan. Biarkan ilmu tumbuh menjadi pemahaman, pengalaman menjadi kedewasaan, kebebasan menjadi tanggung jawab, dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan.

Sebab pendidikan yang sesungguhnya bukan tentang seberapa cepat manusia sampai pada gelar, melainkan tentang seberapa matang ia ketika sampai pada tanggung jawab.
DN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *