NUANSAREALITA, Palangka Raya – Cak Sam. Begitulah masyarakat mengenalnya. Salah seorang personel Ditbinmas Polda Kalimantan Tengah yang kesehariannya kerap menjadi penengah berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat Kota Palangka Raya.
Namun belakangan, namanya tidak hanya dikenal di ibu kota provinsi. Hampir di seluruh wilayah hukum Kalimantan Tengah, nama Cak Sam sering diperbincangkan. Bahkan gaungnya perlahan terdengar hingga luar Kalimantan.

Menurut catatan penulis, Cak Sam tidak jarang menangani berbagai persoalan masyarakat hingga ke pulau seberang. Mulai dari konflik sosial, persoalan rumah tangga, sengketa piutang, hingga kasus-kasus yang bahkan tidak jelas keberadaan pelakunya.
Banyak pertanyaan muncul di balik aksi seorang polisi ini. Apa motivasinya? Apa imbal balik yang ia dapatkan? Apa keuntungan seorang anggota polisi mengurus persoalan pribadi masyarakat yang sering kali berada di luar tugas formalnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu sulit terjawab sebelum bertemu langsung dan menyaksikan bagaimana Cak Sam menghadapi masyarakat dengan segala keluh kesah mereka.
Suatu ketika, penulis melihat seorang warga yang merasa terbantu berusaha memberikan sejumlah uang sebagai bentuk terima kasih atas bantuan dan mediasi yang dilakukan Cak Sam.
Namun apa jawabannya?
“Cukup bayar saya dengan doa saja, Bu.”
Kalimat sederhana itu terlontar dengan tulus.
Baginya, gaji yang diterima dari institusi tempatnya mengabdi sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarganya. Selebihnya, ia meyakini bahwa tugas yang dijalankan dengan ikhlas serta penghargaan dari Yang Maha Esa merupakan tujuan yang lebih bernilai.
Tidak hanya membantu menyelesaikan konflik atau perkara di masyarakat, Cak Sam juga kerap meluangkan waktunya membantu mahasiswa menyelesaikan tugas maupun penelitian. Tanpa memungut biaya apa pun, ia berusaha menjadi manfaat bagi siapa saja yang membutuhkan bantuannya.
Lalu bagaimana jika dirinya sendiri menghadapi masalah?
Dengan nada bercanda, ia menjawab, “Tuhan tidak pernah tidur. Apa pun yang kita dapatkan dari Tuhan, baik yang menurut kita baik maupun kurang baik, semuanya bermuara kepada-Nya.”
Tentu tidak semua orang menyukai apa yang dilakukannya. Namun harus diakui, Indonesia membutuhkan lebih banyak sosok seperti Cak Sam.
Bukan hanya sebagai pengayom dan penyelesai masalah, tetapi juga sebagai pengingat bahwa tidak semua aparat kehilangan kepercayaan masyarakat. Masih ada sosok yang dapat menjadi panutan dalam mengambil keputusan, mendengarkan dengan hati, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Ia mungkin hanya manusia biasa. Namun di balik seragam cokelat yang dikenakannya, terdapat hati yang layak untuk diapresiasi.












