Pocari Sweat Run Indonesia Menggerakkan Ekonomi dan Sport Tourism Bandung

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan berkomitmen untuk terus mendorong kegiatan olahraga sebagai bagian dari penggerak ekonomi dan pariwisata olahraga (sport tourism) di Kota Bandung.

Hal itu disampaikan Farhan saat memberikan sambutan di acara Lunch Gathering Pocari Sweat Run 2026 di Pendopo Kota Bandung, Sabtu 19 September 2026.

Menurutnya, berbagai agenda olahraga yang digelar di Kota Bandung tidak sekadar menjadi kompetisi tetapi juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Farhan menyebut Kota Bandung dalam beberapa tahun terakhir semakin aktif menjadi tuan rumah berbagai kegiatan olahraga baik berskala nasional maupun internasional.

“Event olahraga tidak sekadar event. Percaya atau tidak, tahun lalu kita menjadi tuan rumah kejuaraan internasional bridge. Yang datang sekitar 900 orang,” kata Farhan.

Menurutnya, meski olahraga bridge memiliki karakter pertandingan yang tenang dan tidak banyak diketahui masyarakat, kegiatan tersebut tetap memberikan dampak terhadap perekonomian kota.

“Ketika mereka bermain bridge harus tenang, makanya orang tidak banyak tahu. Tetapi itu menciptakan pergerakan ekonomi,” ujarnya.

Farhan mengatakan, agenda olahraga di Kota Bandung akan semakin padat. Selain Pocari Sweat Run Indonesia Bandung juga akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi Jawa Barat bersama sejumlah daerah lainnya. Tak hanya itu, pada Desember mendatang juga akan digelar Jambore Sepeda Lipat Nasional.

“Bandung akan semakin ramai menjadi tuan rumah berbagai kegiatan olahraga, baik yang kompetitif maupun yang berbentuk sport tourism,” ucapnya.

Farhan menilai kehadiran Pocari Sweat Run Indonesia sejak 2017 telah memberikan manfaat bagi Kota Bandung. Dalam dua tahun terakhir, Pemkot Bandung bahkan terlibat langsung dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut melalui kolaborasi bersama pihak penyelenggara.

Selain itu, Farhan juga menyoroti aspek keamanan peserta, khususnya pelari yang melaksanakan ibadah salat Subuh di masjid-masjid sepanjang rute.

Ia mengaku mendapat laporan pada pelaksanaan sebelumnya terdapat dua pelari yang tidak dapat mengikuti lomba karena kehilangan sepatu setelah melaksanakan salat Subuh.

“Saya sangat terkesan karena pengamanan masjid sangat baik. Beberapa bulan lalu ada dua pelari yang menangis karena tidak bisa mengikuti lomba karena sepatunya hilang setelah salat Subuh. Menurut saya, itu tidak boleh terjadi lagi,” kata Farhan.

Untuk mencegah kejadian serupa, Pemkot Bandung telah mengoordinasikan camat, lurah serta Linmas di wilayah yang berada di sekitar lintasan lomba.

Farhan meminta seluruh unsur kewilayahan memastikan keamanan barang milik peserta yang menggunakan fasilitas masjid selama kegiatan berlangsung.

“Selama dua hari ini, kalau ada peserta yang menumpang salat di masjid, tidak boleh ada satu pun barang yang hilang,” jelasnya.

Farhan juga turut mengingatkan adanya sejumlah titik yang perlu mendapat perhatian khusus atau pinch point selama pelaksanaan lomba.

Pemkot Bandung bersama penyelenggara juga telah melakukan penyesuaian terhadap rute, meski pada akhirnya sebagian besar rute lama tetap digunakan.

Ia meminta peserta berhati-hati ketika melewati sejumlah persimpangan, termasuk kawasan di bawah jalan layang.

Selain keamanan, Farhan juga mengapresiasi interaksi antara pelari dengan pengguna jalan. Menurutnya, komunikasi yang baik antara peserta, marshal dan masyarakat menjadi salah satu kunci kelancaran kegiatan.

“Para pelari juga saya lihat berinteraksi dengan para pengendara dengan baik. Kekhawatiran bahwa marshal akan ikut emosi juga tidak terjadi,” tuturnya. (kyy)