MAJALENGKA, Nuansa Realita – Kiprah alumni Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin dinilai memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Para alumni tidak hanya berkiprah sebagai ulama dan pengasuh pesantren, tetapi juga hadir di berbagai bidang, mulai dari birokrasi, politik, pendidikan, kesehatan hingga dunia usaha.
Hal tersebut disampaikan Ketua ALBAB Nasional, Kombes dr. H. Zuhana Zulfan, MM., yang juga merupakan Anggota DPRD Kabupaten Majalengka periode 2024–2029. Menurutnya, keberadaan alumni Babakan Ciwaringin di berbagai lini merupakan bagian dari pengabdian ilmu yang diperoleh selama menimba ilmu di pesantren.
“Alumni Babakan Ciwaringin sangat dibutuhkan kiprahnya di setiap lini kehidupan. Babakan telah mencetak banyak kiai, tetapi bukan hanya kiai. Banyak pula alumninya yang menjadi birokrat, politisi, akademisi, pengusaha dan profesi lainnya,” ujar Zuhana.
Ia menjelaskan, sejarah pendidikan Babakan Ciwaringin telah melahirkan banyak ulama yang memiliki pengaruh di berbagai daerah. Sejumlah nama ulama besar yang disebutnya pernah memiliki hubungan keilmuan dengan Babakan, di antaranya Kang Ayip Muh, KH. Syakur Yasin dari Candangpinggan Indramayu, KH. Abdullah Abbas Buntet, KH. Syukron Makmun, KH. Mahsuni Kwitang Jakarta, KH. Hasanudin Makassar dan sejumlah ulama lainnya.
Di Kabupaten Majalengka sendiri, kata Zuhana, terdapat sejumlah tokoh ulama yang menjadi bagian dari kiprah alumni dan jaringan keilmuan Babakan, di antaranya Dr. KH. Sarkosi, pimpinan Pondok Pesantren Heuleut, serta KH. Aceng Anwar Sulaiman, MM., Ketua MUI Kabupaten Majalengka.
Membangun Kebersamaan dan Merawat Keindonesiaan
Zuhana menilai, keberadaan organisasi ALBAB juga penting sebagai wadah untuk membangun kebersamaan antaralumni sekaligus meneruskan nilai-nilai kepesantrenan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Ia menyebut sejarah Babakan Ciwaringin tidak dapat dilepaskan dari perjalanan bangsa Indonesia. Menurutnya, para alumni dan jaringan pesantren telah ikut mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
“Sejak masa perjuangan kemerdekaan, jaringan pesantren dan santri telah ikut berkontribusi dalam mempertahankan Indonesia. Semangatnya adalah menjaga agama sekaligus menjaga negara,” tuturnya.
Ia juga mengaitkan tradisi keilmuan pesantren dengan kemampuan santri dalam memahami teks keagamaan sesuai konteks kehidupan. Menurutnya, pemahaman keagamaan yang komprehensif menjadi salah satu bekal penting bagi alumni dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, termasuk dalam menangkal paham radikalisme.
Alumni Babakan di Semua Lini
Menurut Zuhana, motto “Alumni Babakan Ciwaringin untuk Bangsa” bukan sekadar slogan, melainkan bentuk komitmen agar ilmu yang diperoleh dari pesantren dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan negara.
Para alumni Babakan, lanjutnya, telah mengisi berbagai bidang kehidupan. Tidak hanya menjadi kiai dan pengasuh pesantren, tetapi juga ada yang menjadi bupati, anggota DPR, guru ngaji, dosen, tenaga kesehatan, pengusaha, PNS, serta mengelola berbagai lembaga pendidikan dan sosial.
“Artinya, ilmu yang didapatkan dari pesantren tidak berhenti di lingkungan pesantren. Ilmu itu diamalkan untuk menjaga agama, menjaga negara dan menjaga masyarakat,” tegasnya.
Zuhana berharap keberadaan ALBAB dapat semakin memperkuat silaturahmi dan kebersamaan para alumni, khususnya di Kabupaten Majalengka. Hal tersebut disampaikannya di sela-sela persiapan Musyawarah Cabang (Muscab) ALBAB Majalengka.
Ia berharap Muscab tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi alumni Babakan Ciwaringin dalam pembangunan daerah dan kehidupan kebangsaan.
“Alumni Babakan Ciwaringin untuk Bangsa,” pungkasnya.







