JATIWANGI, Nuansa Realita – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musyda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Majalengka, ada satu pesan penting yang perlu kembali ditegaskan: pemuda bukan beban pembangunan, melainkan aset strategis dan kekuatan utama perubahan.
Penulis, yang merupakan mantan pengurus KNPI Kabupaten Majalengka, memandang bahwa momentum Musyda bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, Musyda harus menjadi ruang konsolidasi, regenerasi kepemimpinan, serta pembuktian bahwa pemuda mampu menghadirkan gagasan dan karya nyata bagi masyarakat.
Islam sendiri memberikan perhatian besar terhadap generasi muda. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman tentang Ashabul Kahfi:
“Innahum fityatun aamanu birobbihim wa zidnaahum hudaa.”
Artinya, “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi: 13).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan pemuda tidak semata-mata diukur dari usia, kekuatan fisik, atau popularitasnya, melainkan dari iman, prinsip hidup, ilmu, dan keberanian mempertahankan kebenaran.
Nabi Ibrahim AS juga memberikan teladan keberanian sejak muda dalam menentang penyembahan berhala. Sementara itu, Ali bin Abi Thalib RA dikenal sebagai salah satu orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW ketika usianya masih sangat muda.
Lantas, pemuda seperti apa yang dibutuhkan Majalengka hari ini?
1. Pemuda yang Kuat Akidahnya (Quwwatul Aqidah)
Pemuda sebagai agen perubahan harus memiliki fondasi iman yang kuat. Kecerdasan, jabatan, popularitas, dan kekuasaan tidak akan berarti apabila tidak disertai akhlak dan integritas.
Kisah Nabi Yusuf AS menjadi teladan tentang keteguhan menjaga kehormatan ketika menghadapi godaan. Dalam situasi yang sulit, beliau menegaskan, “Ma’adzallah” — aku berlindung kepada Allah.
Nilai inilah yang perlu dimiliki pemuda Majalengka, termasuk mereka yang kelak memimpin organisasi. Jangan mudah tergoda kepentingan sesaat, jangan menggadaikan idealisme demi jabatan, dan jangan menjadikan organisasi sekadar kendaraan untuk kepentingan pribadi.
2. Pemuda yang Kuat Ilmunya (Quwwatul Ilmi)
Perubahan zaman menuntut pemuda untuk menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.
Islam tidak melarang pemuda mengikuti perkembangan zaman. Namun, pemuda harus mampu membedakan mana hiburan, mana pengetahuan, dan mana aktivitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Imam Syafi’i dikenal sebagai ulama besar yang menuntut ilmu sejak usia muda. Muhammad Al-Fatih juga menjadi simbol kepemimpinan muda yang memadukan visi, pengetahuan, strategi, dan keberanian.
Pemuda Majalengka harus mampu tampil sebagai jurnalis, penulis, peneliti, pendidik, maupun konten kreator yang menyampaikan kebenaran dan kebaikan.
Menjadi jurnalis atau konten kreator bukanlah pekerjaan hina. Sebaliknya, profesi tersebut dapat menjadi jalan mulia apabila dijalankan dengan kejujuran, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
Di era digital, pemuda harus melek teknologi sekaligus melek agama, kritis dalam berpikir, cerdas dalam memilah informasi, serta bertanggung jawab dalam menyebarkan berita.
3. Pemuda yang Memiliki Kepedulian Sosial (Quwwatul Ijtima’iyah)
Agen perubahan bukan hanya mereka yang pandai berpidato di atas panggung. Mereka adalah orang-orang yang mampu merasakan kesulitan masyarakat dan bersedia mengambil tindakan nyata.
Bagaimana mungkin seorang pemuda berbicara tentang kemajuan apabila masih menutup mata terhadap tetangganya yang kelaparan, anak-anak yang kesulitan sekolah, atau masyarakat yang membutuhkan pertolongan?
Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang belum sempurna imannya apabila ia tidak mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, pemuda Majalengka harus hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan sosial, pendampingan UMKM, gerakan pendidikan, kepedulian lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi generasi muda.
KNPI harus mampu menjadi rumah bersama bagi organisasi kepemudaan untuk menyatukan gagasan dan mengubah kepedulian menjadi program nyata.
4. Pemuda yang Berani Menegakkan Kebenaran (Quwwatus Syaja’ah)
Pemuda harus berani menyampaikan kebenaran dan mengoreksi kekeliruan. Jangan menjadi generasi yang hanya pandai mencari pujian, apalagi menjadi penjilat demi mendapatkan kedudukan.
Namun, keberanian harus disertai ilmu, etika, dan tanggung jawab. Kritik tidak harus disampaikan dengan cacian, perbedaan pendapat tidak perlu berujung permusuhan, dan perjuangan tidak boleh berubah menjadi tindakan anarkis.
Keteladanan Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa keyakinan dan argumentasi dapat menjadi landasan untuk menghadapi kemungkaran.
Dalam kehidupan berorganisasi, pemuda harus berani mengingatkan pemimpin ketika kebijakan menyimpang dari kepentingan masyarakat. Sebaliknya, pemuda juga harus bersedia menerima kritik ketika dirinya melakukan kesalahan.
Keberanian yang sesungguhnya bukan sekadar lantang berbicara, melainkan konsisten memperjuangkan kebenaran dengan cara yang bermartabat.
5. Pemuda yang Memiliki Karya Nyata (Quwwatul Amal)
Majalengka membutuhkan pemuda yang produktif, kreatif, dan mampu menghasilkan solusi.
Jangan sampai energi generasi muda habis hanya untuk nongkrong di warung kopi, membicarakan kekurangan orang lain, atau terjebak dalam perdebatan yang tidak menghasilkan perubahan.
Berkumpul dan berdiskusi tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, diskusi harus melahirkan gagasan, sedangkan gagasan harus diwujudkan menjadi tindakan.
Pemuda dapat memulai dari hal sederhana: membangun usaha, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan potensi desa, menggerakkan kegiatan olahraga, meningkatkan literasi digital, membantu masyarakat, hingga menciptakan ruang kreatif bagi generasi muda.
Di sinilah KNPI dituntut untuk membuktikan keberadaannya. Organisasi kepemudaan jangan hanya ramai ketika Musyda, tetapi harus tetap hadir setelah acara selesai.
Pemimpin KNPI yang akan datang harus mampu merangkul berbagai organisasi, membuka ruang partisipasi, dan memastikan bahwa pemuda dari berbagai latar belakang memiliki kesempatan untuk berkembang.
MUSYDA KNPI HARUS MELAHIRKAN PERUBAHAN
Musyda KNPI Kabupaten Majalengka hendaknya menjadi momentum untuk memilih pemimpin berdasarkan kapasitas, integritas, visi, dan kemampuan membangun persatuan.
Jangan biarkan Musyda hanya menjadi ajang perebutan jabatan. Jadikan forum tersebut sebagai titik awal untuk menyusun agenda besar kepemudaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Pemuda Majalengka harus mampu menjadi mitra kritis pemerintah, mitra strategis masyarakat, sekaligus pelopor inovasi dan pembangunan daerah.
Sebab, masa depan Majalengka tidak cukup hanya dibicarakan oleh generasi tua. Generasi muda harus diberi kepercayaan, kesempatan, dan tanggung jawab untuk ikut menentukan arah perubahan.
PENUTUP
Ya Allah, jadikanlah pemuda-pemudi Majalengka generasi seperti Ashabul Kahfi: teguh dalam iman, kuat dalam persatuan, luas dalam ilmu, luhur dalam akhlak, berani menegakkan kebenaran, serta bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Semoga Musyda KNPI Kabupaten Majalengka melahirkan pemimpin yang bukan hanya pandai berjanji, tetapi mampu bekerja dan menghasilkan karya nyata.
Pemuda bukan beban. Pemuda adalah aset perubahan. Saatnya pemuda Majalengka bergerak, bersatu, dan berkarya untuk masa depan yang lebih baik.
Fastabiqul khairat — berlomba-lombalah dalam kebaikan.
Jatiwangi, 10 Oktober 2026
Penulis: Mantan Pengurus KNPI Kabupaten Majalengka







