MAJALENGKA, Nuansa Realita – Jauh sebelum istilah Pancasila Waluya ramai diperbincangkan, nilai-nilai pembentukan karakter yang mengedepankan sikap baik, kecerdasan, kejujuran dan kemampuan bersosialisasi ternyata telah diterapkan di SMK Bhakti Kencana Jatiwangi, Kabupaten Majalengka.
Di sekolah tersebut, kata-kata “Bageur, Pinter, Jujur, Parigeul” telah terpajang di dinding ruang tamu dekat pintu depan sekolah sejak tahun 2013. Nilai tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah dalam membentuk karakter peserta didik.
Belakangan ini, istilah Pancasila Waluya yang disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang dikenal dengan KDM menjadi perhatian masyarakat. Namun bagi keluarga besar SMK Bhakti Kencana Jatiwangi, nilai-nilai tersebut bukanlah sesuatu yang baru.
Hanya saja, menurut pihak sekolah, terdapat perbedaan dalam penggunaan istilah. Jika saat ini dikenal dengan konsep Pancasila Waluya, di SMK Bhakti Kencana sejak lama telah membiasakan peserta didik dengan nilai bageur, pinter, jujur dan parigeul, meskipun belum mencantumkan kata “beuner”.
Selain itu, pembiasaan senyum, sapa dan salam juga telah ditanamkan sejak siswa pertama kali memasuki lingkungan sekolah. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter yang dilakukan secara terus-menerus.
Kepala SMK Bhakti Kencana Jatiwangi, Ade Kurniawan, mengatakan bahwa tulisan yang terpajang di lingkungan sekolah tersebut dibuat sejak masa kepemimpinan kepala sekolah sebelumnya.
“Kalimat ini dibuat sejak kepala sekolah sebelumnya. Kami di sekolah sudah terbiasa melakukan pembentukan karakter anak melalui berbagai kegiatan,” ujar Ade Kurniawan.
Menurutnya, pembentukan karakter tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan pembiasaan sehari-hari.
“Banyak kegiatan yang kami lakukan, baik Pramuka, olahraga maupun Rohis. Alhamdulillah, anak-anak dapat dikendalikan dan diarahkan dengan baik,” katanya.
Ade menjelaskan, pembiasaan karakter di SMK Bhakti Kencana Jatiwangi merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari. Salah satunya melalui pelaksanaan salat zuhur berjamaah.
Setelah salat berjamaah, para siswa juga mendapatkan kesempatan untuk belajar hitobah secara bergantian. Kegiatan tersebut diikuti siswa dari setiap tingkatan sebagai bagian dari latihan keberanian berbicara di depan umum sekaligus memperkuat pembentukan karakter dan keagamaan.
“Pembiasaan di sekolah merupakan kegiatan harian rutin. Kami juga melaksanakan salat zuhur berjamaah, kemudian diakhiri dengan siswa belajar hitobah secara bergantian dari setiap tingkatan,” pungkas Ade Kurniawan.
(DN)










