Menu

Mode Gelap
Speedboat Bawa 23 Migran Tenggelam di Pantai Kuba, 2 Orang Tewas PA 212 soal Polisi Halangi Massa di Patung Kuda: Semoga Aparat Punya Hati Nurani Massa Reuni 212 Hanya Bisa Sampai Thamrin, Putar Balik ke HI Sambil Salawat Prof Tjandra: Varian Omicron Mungkin Berdampak pada Obat Pasien COVID-19

News

Satu Sudut Paralon di Pesanggrahan: Tentang Mimpi Basuki dan Sawi yang Menanti Perhatian

badge-check


					Satu Sudut Paralon di Pesanggrahan: Tentang Mimpi Basuki dan Sawi yang Menanti Perhatian Perbesar

CILACAP, Nuansarealitanews.com – Di sebuah sudut tenang RT 003 / RW 001, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kroya, deretan paralon putih tertata rapi di bawah naungan langit Cilacap. Di sana, hijau daun sawi tumbuh subur, membawa serta harapan besar seorang pemuda bernama Basuki. Minggu, 29/03/2026.

Ia tidak sedang sekadar menanam sayur; ia sedang merawat mimpi kemandirian pangan di tanah kelahirannya.
Dengan langkah pelan dan tangan yang terbiasa bersentuhan dengan nutrisi air, Basuki menunjukkan instalasi hidroponik yang ia bangun dengan peluh sendiri.

Modal 25 juta rupiah—angka yang tidak sedikit bagi seorang pemuda desa—ia pertaruhkan sepenuhnya untuk membangun 49 lokal tempat pembibitan. Di setiap lubang paralon itu, ada doa agar esok hari ia bisa memberi manfaat lebih bagi warga sekitar.

Keikhlasan di Balik Masa Panen 45 Hari

Waktu 45 hari mungkin terasa singkat bagi sebagian orang, namun bagi Basuki, itu adalah waktu yang penuh ketelitian. Setiap tetes air dan keseimbangan nutrisi ia jaga agar sawi-sawi ini layak dikonsumsi.

Kerja kerasnya pun berbuah manis; kualitas sayurnya diakui hingga permintaan mengalir deras, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencapai 100 kilogram setiap minggunya.

Namun, di balik hijaunya daun sawi yang siap petik, ada ganjalan yang menyesak di dada. Permintaan masyarakat begitu besar, namun kemampuan Basuki untuk melayani semua itu mulai menemui batasnya.

Harapan yang Menitip di Pintu Dinas
Basuki bukan sedang mengeluh, ia hanya sedang berbisik lirih melalui kerja nyata.

Ia telah membuktikan bahwa pemuda desa sanggup berbuat banyak tanpa harus meninggalkan kampung halaman. Namun kini, ia berada di titik di mana semangat saja tidak lagi cukup. Ia membutuhkan uluran tangan permodalan untuk memperluas langkahnya.

“Modal awal itu murni hasil perjuangan sendiri. Sekarang, saat permintaan mencapai 100 kg per minggu, saya hanya bisa berharap ada mata yang melihat dari Dinas Pertanian atau Ketahanan Pangan. Saya ingin usaha ini bukan hanya milik saya, tapi bisa membantu pemerintah mencukupi gizi warga,” ungkap Basuki dengan tatapan tulus.

Menanti Tangan Pemerintah

Kisah Basuki adalah potret pejuang pangan yang bergerak dalam senyap. Ia tidak menunggu bantuan untuk memulai, namun ia butuh dukungan untuk bertahan dan berkembang. Sangat disayangkan jika potensi seindah ini harus jalan di tempat hanya karena keterbatasan biaya ekspansi.
Kini, di RT 003 Pesanggrahan, sawi-sawi itu masih terus tumbuh.

Mereka menjadi saksi bisu seorang pemuda yang terus menanti, mungkinkah pemerintah daerah akan datang membawa solusi permodalan, ataukah perjuangan ini akan tetap dibiarkan berjalan sendirian di bawah terik matahari Kroya?

(SAS NR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

3 Mei 2026 - 04:00 WIB

OPTIMALKAN YANMAS JUGA PAM MAKO POLSEK KAPUAS HULU SIAGA PENJAGAAN SIANG

3 Mei 2026 - 03:44 WIB

POLSEK KAPUAS HULU LAKSANAKAN SIAGA PENJAGAAN SIANG OPTIMALKAN YANMAS DAN JUGA PAM MAKO

3 Mei 2026 - 03:42 WIB

Kolaborasi DPRD dan RSUD Sayidiman, Tim Medis Kunjungi Warga Dadi Korban Kecelakaan Kerja

3 Mei 2026 - 03:41 WIB

TINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK POLSEK KAPUAS HULU LAKSANAKAN PROGRAM MINGGU KASIH

3 Mei 2026 - 03:09 WIB

Trending di News