Tingginya angka pengangguran di Kota Bandung tidak dapat dilepaskan dari karakteristik kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang terbuka.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyebut fenomena urbanisasi menjadi salah satu faktor utama meningkatnya persaingan di pasar tenaga kerja.
Dengan jumlah penduduk usia produktif mencapai sekitar 1,6 juta jiwa, ditambah sekitar 100 ribu pendatang usia produktif yang tinggal di kos dan kontrakan, tekanan terhadap pasar kerja di Kota Bandung semakin tinggi.
“Bandung ini seperti gula, ketika pertumbuhan ekonomi tinggi, maka pencari kerja datang seperti semut,” ujar Farhan di Teras Sunda Cibiru, Kota Bandung, Sabtu, 25 April 2026.
Data berbasis kewilayahan menunjukkan rata-rata setiap RW di Kota Bandung memiliki sekitar 60 unit kos dan kontrakan.
Dengan total 1.597 RW, diperkirakan terdapat hampir 100 ribu pendatang usia produktif yang aktif mencari pekerjaan di Kota Bandung.
Farhan menjelaskan, kondisi ini merupakan konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Hal tersebut juga menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja.
Untuk mengatasi hal ini, Pemkot Bandung mendorong peningkatan investasi sebagai salah satu solusi utama.
Hingga saat ini, realisasi investasi di Kota Bandung telah mencapai sekitar Rp11 triliun, namun angka tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan.
Selain itu, Pemkot juga terus memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha, termasuk Kadin dan Apindo, guna membuka peluang kerja baru serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. (ziz)












