Nuansarealitanews.com, Kotim (Kalteng) – Langit pagi di Desa Terantang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur tampak cerah pada Selasa (16/6/2026).

Seperti hari-hari biasanya, mentari pagi menyambut antusiasme warga yang mulai memadati urat nadi transportasi desa.
Hilir mudik taksi kelotok (perahu motor khas Kalimantan) menjadi pemandangan utama, mengantarkan para buruh menuju kebun.
Di sudut lain, para pedagang sayur keliling tampak bersiap memacu sepeda motornya, sementara sebagian petani lokal memilih mendayung sampan tradisional mereka untuk pergi ke kebun dan ladang seberang.
Ada pula hilir mudik warga yang hendak menyeberang menuju Kota Sampit guna berbelanja kebutuhan rumah tangga.
Harmoni Desa di Balik Ketimpangan Sosial
Kehidupan di Desa Terantang memang cukup menarik untuk disimak. Di balik berputarnya roda kehidupan sehari-hari, desa ini menyimpan potret sosial yang berlapis.
Masyarakatnya hidup dalam suasana yang sangat agamis, damai, dan penuh toleransi. Namun, tidak bisa dimungkiri, kontras status sosial ekonomi antara si kaya dan si miskin tetap berdampingan di tengah masyarakat.
Namun, di balik kedamaian tersebut, saat ini ada keresahan yang perlahan mulai mengusik isi dompet warga, khususnya terkait pemenuhan kebutuhan transportasi air yang menjadi urat nadi perekonomian mereka.
Jeritan Warga: Tarif Kelotok Melonjak Dua Kali Lipat
Saat ini, warga Desa Terantang harus menghadapi kenyataan pahit akibat naiknya tarif taksi kelotok penyeberangan.
Tarif yang dulunya hanya Rp 5.000, kini melonjak dua kali lipat menjadi Rp 10.000 per unit sepeda motor. Kenaikan ini dipicu oleh satu masalah klasik yang tak kunjung usai:
sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi.
Menurut penuturan salah seorang warga setempat, meski harga resmi solar bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tidak mengalami kenaikan, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik karena pasokan subsidi tersebut tidak menyentuh para operator kelotok di desa mereka.
“Memang tarif BBM solar bersubsidi di SPBU tidak naik, namun kami (masyarakat dan operator kelotok bawah) tidak mendapatkan subsidi ini. Akhirnya terpaksa membeli solar eceran yang harganya jauh lebih mahal agar tetap bisa beroperasi,” ungkap warga.
Menagih Solusi Pemerintah Daerah
Kenaikan tarif penyeberangan ini jelas menjadi beban ganda bagi masyarakat, terutama bagi warga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah dan petani lokal yang setiap hari harus bolak-balik menyeberang demi menyambung hidup.
Sudah seharusmya Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur, melalui dinas terkait seperti Dinas Perhubungan dan Dinas Perdagangan, segera turun tangan.
Warga berharap pemerintah dapat memberikan solusi konkret, entah melalui pengawasan distribusi solar subsidi yang lebih ketat, atau menyediakan kuota khusus solar bersubsidi bagi para pelaku transportasi air di Kecamatan Seranau.
Jika pembiaran ini terus berlanjut, dikhawatirkan roda ekonomi Desa Terantang akan semakin melambat, dan jurang ketimpangan sosial ekonomi antar-warga akan semakin melebar.
Ditengah cerahnya langit Terantang pagi ini, terselip harapan besar agar akses energi yang adil bisa segera mereka rasakan.
(Umar k)












