Menu

Otomatis
Breaking News

News

Perampasan Aset Koruptor: Antara Ketakutan Pemegang Kuasa dan Keadilan bagi Rakyat

badge-check

Perampasan Aset Koruptor: Antara Ketakutan Pemegang Kuasa dan Keadilan bagi Rakyat Perbesar

Oleh : Vicky

 

Bekasi, 8 Agustus 2026

 

Sungguh terlihat jelas hambatan terbesar dalam penegakan hukum di negeri ini: ketika pembahasan tentang perampasan aset hasil korupsi dibahas di Dewan Legislatif, Eksekutif, maupun Yudikatif, yang muncul bukan semangat menegakkan keadilan, melainkan saling tarik-menarik dan pertimbangan yang berpusat pada diri sendiri.

 

Mereka yang memegang kekuasaan justru gemetar memikirkan: “Bagaimana jika nanti rekan saya? Bagaimana jika giliran saya? Bagaimana nasib keluarga saya jika aset ikut diambil?” Padahal yang seharusnya diatur adalah perampasan yang jelas, tegas, dan berdasar pada bukti yang nyata dan sah, bukan sekadar tuduhan tanpa dasar. Namun justru ketakutan inilah yang membuat hukum terus tertahan — karena mereka tahu, di antara mereka sendiri pun banyak yang tidak bersih.

 

Jika kita benar-benar ingin memajukan negeri ini dan menjadikannya tempat yang beradab dan maju, maka jangan lagi menjadikan alasan “takut disalahgunakan” sebagai tameng untuk melindungi pelaku kejahatan. Tidak perlu berdalih: “Nanti bagaimana keluarga makan?” — justru keluargalah yang paling berhak tahu bahwa harta yang didapat dengan menipu rakyat tidak layak untuk diwariskan.

 

Negeri ini berketuhanan dan menjunjung keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Mengapa harus takut, jika yang dilakukan adalah benar dan jujur? Orang yang bekerja jujur tidak akan pernah kehilangan apa yang menjadi haknya. Hanya mereka yang bersembunyi di balik kekuasaan dan memakan hak orang lain yang akan terus gemetar.

 

Lihatlah Cina, di sana penindakan terhadap korupsi dilakukan secara tegas dan tanpa pandang bulu, aset yang terbukti berasal dari kejahatan langsung diambil kembali untuk dikembalikan kepada negara dan rakyat. Di Jepang pun sama: mereka memiliki aturan tegas untuk menyita aset hasil kejahatan melalui jalur hukum yang jelas dan berdasar bukti — tidak ada yang berdalih alasan kasihan kepada keluarga atau takut disalahgunakan, sebagaimana sering terjadi di sini. Mereka tidak terhalang oleh rasa segan kepada rekan sejabatan, tidak terhalang oleh kekhawatiran nasib keluarga pelaku — karena di atas segalanya ada kepentingan rakyat dan keutuhan negara.

 

Maka inilah panggilan jujur bagi seluruh pemegang kekuasaan: Jangan jadikan ketakutan sendiri sebagai alasan untuk membiarkan kejahatan terus berjalan. Tegakkan hukum dengan dasar bukti yang kuat, dan jangan pernah takut kepada kebenaran. Karena di atas segala jabatan, ada Tuhan Yang Maha Adil, dan di hadapan-Nya tidak ada satu pun kekuasaan yang bisa melindungi kesalahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Menkopolkam Kunjungi Makodam III Siliwangi, Pangdam Tegaskan Komitmen Perkuat Sinergi Menjaga Stabilitas Nasional

8 Agu 2026 - 02:14 WIB

Menkopolkam Kunjungi Makodam III Siliwangi, Pangdam Tegaskan Komitmen Perkuat Sinergi Menjaga Stabilitas Nasional

Pemimpin Itu Melayani, Bukan Dilayani  

7 Agu 2026 - 15:35 WIB

Pemimpin Itu Melayani, Bukan Dilayani   

Sungguh Ironis: Anggaran Pendidikan Dipangkas, Kesejahteraan Guru Terabaikan

7 Agu 2026 - 15:22 WIB

Sungguh Ironis: Anggaran Pendidikan Dipangkas, Kesejahteraan Guru Terabaikan

Digerebek Saat Dini Hari, Apa yang Terjadi di Dalam Five Stars Bali? 53 Orang Diamankan Bareskrim Polri

7 Agu 2026 - 15:20 WIB

Digerebek Saat Dini Hari, Apa yang Terjadi di Dalam Five Stars Bali? 53 Orang Diamankan Bareskrim Polri

Polda Jabar Ungkap 352 Kasus, Pemkot Dukung Perang Melawan Kejahatan Jalanan

7 Agu 2026 - 15:18 WIB

Polda Jabar Ungkap 352 Kasus, Pemkot Dukung Perang Melawan Kejahatan Jalanan
Trending di News