MAJALENGKA –NR, – Dari kawasan yang dikenal sebagai sentra genteng, Jatiwangi art Factory (JaF) selama 21 tahun terus membawa cerita tentang budaya lokal ke berbagai penjuru dunia.
Bukan sekadar berkesenian, perjalanan JaF berkembang menjadi bagian dari diplomasi budaya. Para seniman Jatiwangi telah membangun jejaring dan melanglang buana ke berbagai negara di Asia, Eropa, Amerika, Afrika hingga Australia.
Founding Father JaF, Ginggi Syarief Hasim, mengatakan perjalanan panjang tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan karya, gagasan dan identitas lokal Indonesia kepada masyarakat internasional.
“Ini sebuah diplomasi kebudayaan. Harus ada orang-orang yang terus bergerak memperkenalkan banyak hal untuk terus memperbaiki image tentang negara kita,” ujar Ginggi, Minggu (27/09/2026) malam.
Selama 21 tahun, JaF juga melahirkan berbagai program, mulai dari Ruang Kosmik, ruang diskusi, pameran seni rupa hingga JaF Artist in Residence (AiR) yang mempertemukan seniman lokal dengan seniman dari berbagai negara.
Jejaring JaF kini disebut telah terhubung dengan lebih dari 50 negara dari lima benua. Bahkan, program Perhutana yang membawa gagasan tentang warisan hutan untuk generasi mendatang turut melibatkan masyarakat dari berbagai negara.
Kini, tantangan JaF bukan hanya memperluas jejaring internasional, tetapi memastikan estafet kebudayaan tetap berjalan di tangan generasi muda.
Dari Jatiwangi, budaya lokal terus bergerak.
Dari tanah liat, lahir karya. Dari karya, terbangun jejaring. Dan dari Jatiwangi, budaya Indonesia diperkenalkan ke dunia.







