Oleh : Vicky
Bekasi, 8 Agustus 2026
Ada satu kenyataan yang terus terlihat terang namun sering ditutupi kata-kata manis: kemajuan yang dibanggakan di atas, belum terasa sampai ke meja makan rakyat di bawah. Data berbicara dengan sangat jujur — sekitar 45 persen dari seluruh kekayaan dan belanja di negeri ini dikuasai oleh hanya 20 persen penduduknya. Sementara 80 persen sisanya, harus berbagi dari sisa yang semakin menyempit .
Inilah luka yang makin melebar: kebijakan sering kali lebih berpihak kepada yang sudah punya, sementara yang kecil semakin terbebani. Pajak ditarik dari yang sudah sulit makan, sementara yang memegang kekuasaan dan koneksi justru dapat kemudahan, pengurangan, bahkan perlindungan. Anggaran negara gemuk untuk urusan jabatan dan perjalanan, tetapi ketika diminta untuk guru, untuk kesehatan, untuk daerah terluar, jawabannya selalu sama: “tidak ada uang” .
Bangsa ini tidak miskin. Sumber daya alamnya berlimpah, jumlah penduduknya besar dan rajin, tanahnya subur dari Sabang sampai Merauke. Yang salah bukan tanahnya, bukan rakyatnya — yang salah adalah cara pembagiannya yang tidak adil. Seperti dikatakan oleh seorang pemimpin besar dulu: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” — bukan keadilan bagi sebagian rakyat, bukan keadilan bagi yang berkuasa saja, tetapi bagi seluruh rakyat .
Lihatlah negara-negara yang berhasil maju: Singapura, Malaysia, Jepang, dan Vietnam. Mereka tidak membiarkan kekayaan hanya menumpuk di puncak. Mereka tahu bahwa ketika rakyat di bawah sejahtera, maka seluruh bangsa ikut kuat. Tetapi di sini, justru sebaliknya: semakin jauh dari pusat kekuasaan, semakin berat beban yang dipikul — di Papua, di Maluku, di Nusa Tenggara, di daerah-daerah yang menyumbang kekayaan namun jarang menerimanya kembali .
Jika kita benar-benar ingin menyelamatkan bangsa ini dari perpecahan, dari kekecewaan yang meledak suatu hari nanti, maka tidak ada jalan lain: kembalikan keadilan itu secara nyata. Jangan hanya diucapkan di pidato, tetapi jalankan di setiap kebijakan. Pastikan kekayaan negara mengalir ke rakyat yang bekerja, ke guru yang mendidik, ke daerah yang menyumbang, bukan hanya berputar di kalangan yang sama saja. Karena bangsa yang tidak adil kepada rakyatnya sendiri, tidak akan pernah berdiri tegak dalam waktu yang lama.




















